<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.6.3" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>National Geographic Blogs Master Site Feed</title>
	<link>http://blog.nationalgeographic.co.id</link>
	<description>Shows all posts, comments, and pages from all blogs on this WPMU powered site</description>
	<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 12:02:19 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.3</generator>
	<language>en</language>
	<item>
		<title>maskot personalisasi pejalan</title>
		<link>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/28/maskot-personalisasi-perjalanan/</link>
		<comments>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/28/maskot-personalisasi-perjalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 12:02:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ukirsari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Membuat perjalanan yang dilakukan banyak orang terasa berbeda atau memiliki sentuhan personal? Salah satu cara saya -juga banyak dilakukan para pejalan sejak dulu-adalah mengikutsertakan boneka, maskot atau benda-benda berkaitan langsung dengan pribadi.
 
 design and lay-out oleh Asteria Iskandar

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membuat perjalanan yang dilakukan banyak orang terasa berbeda atau memiliki sentuhan personal? Salah satu cara saya -juga banyak dilakukan para pejalan sejak dulu-adalah mengikutsertakan boneka, maskot atau benda-benda berkaitan langsung dengan pribadi.</p>
<p> <a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/travelbuddy.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-294" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/travelbuddy-300x85.jpg" alt="" width="430" height="112" /></a></p>
<p style="text-align: center"> <em>design and lay-out oleh Asteria Iskandar</em></p>
<p style="text-align: center">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Dengan kreatif dan teknologi, jadilah kemakmuran</title>
		<link>http://teknologi.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/25/dengan-kreatif-dan-teknologi-jadilah-kemakmuran/</link>
		<comments>http://teknologi.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/25/dengan-kreatif-dan-teknologi-jadilah-kemakmuran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 06:56:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alex Pangestu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teknologi.blog.nationalgeographic.co.id/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Rumus itu tersirat dalam INAICTA 2010 yang digelar Mei sampai Juli 2010 di Jakarta. Dari tagline-nya saja sudah tampak: “Membangun Kreativitas Digital Untuk Kemakmuran Bangsa”. INAICTA-kependekan dari Indonesia Information &#38; Communication Technology Award-adalah ajang penghargaan untuk karya-karya terbaik karya orang Indonesia di bidang telematika.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rumus itu tersirat dalam INAICTA 2010 yang digelar Mei sampai Juli 2010 di Jakarta. Dari <em>tagline</em>-nya saja sudah tampak: “Membangun Kreativitas Digital Untuk Kemakmuran Bangsa”. INAICTA-kependekan dari Indonesia Information &amp; Communication Technology Award-adalah ajang penghargaan untuk karya-karya terbaik karya orang Indonesia di bidang telematika.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Peta tutupan hutan global bisa jadi petunjuk level karbon dunia</title>
		<link>http://areahijau.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/peta-tutupan-hutan-global-bisa-jadi-petunjuk-level-karbon-dunia/</link>
		<comments>http://areahijau.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/peta-tutupan-hutan-global-bisa-jadi-petunjuk-level-karbon-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 10:25:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Firman Firdaus</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://areahijau.blog.nationalgeographic.co.id/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Untuk pertama kalinya, para ilmuwan, dengan menggunakan data satelit NASA, meluncurkan peta yang menggambarkan secara detail ketinggian hutan-hutan di seluruh dunia. Data ini bisa digunakan sebagai petunjuk jumlah karbon yang disimpan (carbon stock) dalam hutan-hutan dunia, dan seberapa cepat siklus karbon di ekosistem kembali ke atmosfer.

Menurut paparan yang disampaikan Michael Lefsky dari Colorado State University [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk pertama kalinya, para ilmuwan, dengan menggunakan data satelit NASA, meluncurkan peta yang menggambarkan secara detail ketinggian hutan-hutan di seluruh dunia. Data ini bisa digunakan sebagai petunjuk jumlah karbon yang disimpan (carbon stock) dalam hutan-hutan dunia, dan seberapa cepat siklus karbon di ekosistem kembali ke atmosfer.</p>
<p><a href="http://areahijau.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/peta5001.jpg"><img src="http://areahijau.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/peta5001.jpg" alt="" width="500" height="348" class="alignnone size-full wp-image-70" /></a></p>
<p>Menurut paparan yang disampaikan Michael Lefsky dari Colorado State University dalam jurnal Geophysical Research Letters, peta baru ini memperlihatkan hutan-hutan tertinggi terkonsentrasi di Pasifik Barat Laut di Amerika Utara, dan sebagian Asia Tenggara. Sementara hutan-hutan yang rendah ditemukan di Kanada utara dan Eurasia.</p>
<p>Selain menunjukkan hutan-hutan berdasarkan tinggi pohonnya, ke depannya peta yang merupakan kombinasi dari satelit ICESat, Terra, dan Aqua ini bisa digunakan sebagai alat untuk memperkirakan jumlah karbon yang terikat dalam hutan-hutan di Bumi, dan mencari jawaban ke mana 2 miliar ton karbon &#8220;hilang&#8221; dari atmosfer setiap tahunnya. </p>
<p><a href="http://areahijau.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/470383main_us_treecanopy5001.jpg"><img src="http://areahijau.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/470383main_us_treecanopy5001.jpg" alt="" width="500" height="358" class="alignnone size-full wp-image-72" /></a></p>
<p>Manusia melepas sekitar 7 miliar ton karbon per tahun, kebanyakan dalam bentuk karbon dioksida. Sebanyak 3 miliar ton dari jumlah itu berakhir di atmosfer, dan 2 miliar ton di lautan. Belum diketahui ke mana sisanya yang 2 miliar ton. Sementara ini diduga karbon yang hilang tersebut tersimpan sebagai biomassa.</p>
<p>&#8220;Yang kita butuhkan adalah peta biomassa yang ada di atas tanah, dan peta ini bisa membantu kita,&#8221; kata Richard Houghton, pakar ilmu ekosistem terestrial. (Sumber: <a href="http://www.nasa.gov/topics/earth/features/forest-height-map.html">NASA</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Teknologi bantu misi INDEX SATAL-2010</title>
		<link>http://teknologi.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/21/teknologi-bantu-observasi-index-satal-2010/</link>
		<comments>http://teknologi.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/21/teknologi-bantu-observasi-index-satal-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 06:57:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alex Pangestu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teknologi.blog.nationalgeographic.co.id/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Kemajuan teknologi telepresence menghadirkan Electronic Chart Centre (ECC) dan kendaraan bawah laut berpengendali jarak jauh yang memiliki kemampuan video definisi tinggi. Pemanfaatan teknologi itu meningkatkan efisiensi pendataan serta menyediakan kemudahan untuk mengamati objek lebih dekat dengan visual yang baik. Demikian pendapat Dr. Ridwan Djamaluddin, Deputi Kepala BPPT bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam setelah mengunjungi kapal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemajuan teknologi <em>telepresence</em> menghadirkan Electronic Chart Centre (ECC) dan kendaraan bawah laut berpengendali jarak jauh yang memiliki kemampuan video definisi tinggi. Pemanfaatan teknologi itu meningkatkan efisiensi pendataan serta menyediakan kemudahan untuk mengamati objek lebih dekat dengan visual yang baik. Demikian pendapat Dr. Ridwan Djamaluddin, Deputi Kepala BPPT bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam setelah mengunjungi kapal Okeanos Explorer milik Amerika Serikat pada Selasa (20/7).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Mr.RIGHTnow</title>
		<link>http://loremipsum.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/20/mrrightnow/</link>
		<comments>http://loremipsum.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/20/mrrightnow/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 09:29:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asteria Iskandar</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://loremipsum.blog.nationalgeographic.co.id/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Lorem Ipsum, sepenggal dummy text teman terdekat desainer—terlebih untuk layout designer—di belahan dunia manapun. Bila diibaratkan dengan analogi konyol yang sok dramatis, Adobe InDesign—sebuah software layout keluaran Adobe, maaf … Quark Express sudah sangat jaman ‘Catatan si-Boy’, ‘Lupus’ atau ‘Olga Sepatu Roda’—memang partner in crime saya! 
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Lorem Ipsum</strong>, sepenggal <em>dummy text</em> teman terdekat desainer—terlebih untuk layout designer—di belahan dunia manapun. Bila diibaratkan dengan analogi konyol yang sok dramatis, Adobe InDesign—sebuah software layout keluaran Adobe, maaf … Quark Express sudah sangat jaman ‘Catatan si-Boy’, ‘Lupus’ atau ‘Olga Sepatu Roda’—memang <em>partner in crime</em> saya! </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Grafis yang Bercerita; bagian 1</title>
		<link>http://infografer.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/20/grafis-yang-bercerita-bagian-1/</link>
		<comments>http://infografer.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/20/grafis-yang-bercerita-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 09:16:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lambok Hutabarat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://infografer.blog.nationalgeographic.co.id/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[
 FUNGSI INFOGRAFIS Untuk menyederhanakan data yang kompleks. 
Bagaimana merancang sebuah tampilan infografis?
A. HARUS MENARIK SECARA VISUAL Gambar lebih cepat menarik perhatian orang dibanding teks. Seperti halnya foto yang menarik dan headline yang menggelitik, tugas pertama infografis adalah menarik perhatian pemirsa, untuk kemudian membuat mereka membaca tulisannya. Jadi, rencanakanlah visual terlebih dahulu.
B. BUATLAH SAJIAN YANG [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><span style="font-weight: normal"><br />
<strong> FUNGSI INFOGRAFIS</strong> Untuk menyederhanakan data yang kompleks. </span></h3>
<h3><span style="font-weight: normal">Bagaimana merancang sebuah tampilan infografis?</span></h3>
<h4><span style="font-weight: normal">A. HARUS MENARIK SECARA VISUA</span><span style="font-weight: normal">L</span><span style="font-weight: normal"> Gambar lebih cepat menarik perhatian orang dibanding teks. Seperti halnya foto yang menarik dan headline yang menggelitik, tugas pertama infografis adalah menarik perhatian pemirsa, untuk kemudian membuat mereka membaca tulisannya. Jadi, rencanakanlah visual terlebih dahulu.</span></h4>
<p><img class="size-full wp-image-19 alignleft" src="http://infografer.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/infographic-kompor_ff3.jpg" alt="Hadir di NGI edisi September 2008" width="317" height="370" /><span style="font-weight: normal"><strong>B. BUATLAH SAJIAN YANG RINGKAS</strong></span><span style="font-weight: normal"> Infografis yang ideal hanya terfokus pada satu ide bahasan. Tidak berarti bahwa Anda harus menyajikan sesedikit mungkin data, namun sebaiknya menyortir data agar makin terfokus pada topik utama. Informasi tambahan bisa disajikan dengan tanpa mengganggu sajian visual topik utama (itu pun dibatasi hanya data-data yang mendukung topik utama).</span></p>
<p><span style="font-weight: normal"><em>Contoh 1:</em> Di samping ini adalah ilustrasi kompor sekam. Tulisan utama dalam artikel ini bercerita tentang alternatif bahan bakar untuk kompor yang dibuat secara tradisional. Nah, data-data dalam tulisan utama tidak dimunculkan ulang dalam infografis. Biarlah infografis sendiri bercerita secara visual tentang bagaimana sebenarnya cara kerja kompor tersebut. Untungnya memang cara kerja kompor ini cukup ringkas, sehingga tidak diperlukan gambar lain (yang bisa memecah perhatian). Seluruh cerita harus selesai dalam satu sajian visual. Catatan: bentuk kompor dibuat dengan program Adobe Illustrator, kemudian dipoles di Photoshop untuk menampilan kesan tiga dimensi, efek api, foto montase sekam, dan pewarnaan. </span></p>
<p><a href="http://infografer.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/komparasi-hadiah-bulutangkis.jpg"><img class="size-medium wp-image-24 alignright" src="http://infografer.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/komparasi-hadiah-bulutangkis-166x300.jpg" alt="" width="166" height="300" /></a><span style="font-weight: normal"><strong>C. PERKIRAKAN UKURAN VISUAL</strong></span><span style="font-weight: normal"> Data yang sangat bervariasi biasanya sulit untuk disandingkan satu sama lain. Jadi desainlah informasi tersebut agar pembaca tidak kesulitan mengkomparasi data yang satu dengan yang lainnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: normal"><em>Contoh 2:</em> Gambar di samping kanan adalah potongan dari suplemen poster bulutangkis NGI edisi Mei 2010. Infografis tersebut membandingkan besar hadiah uang di kejuaraan dunia bulutangkis; lingkaran warna biru, dan besar hadiah kejuaraan dunia tenis; lingkaran warna abu-abu. (Silahkan klik untuk gambar yang lebih besar) Tanpa harus menganalisa data kongkret dalam angka, pembaca dalam waktu singkat sudah bisa mendapat gambaran bahwa bayaran pemain bulutangkis jauh lebih sedikit dibanding pemain tenis. Catatan: Bentuk lingkaran dirasa paling cocok untuk menganalogikan jumlah uang. Besarnya diameter lingkaran tersebut dibuat dalam Adobe Illustrator. Dalam program ini terdapat fasilitas untuk mengubah besaran angka ke dalam indeks grafis. Bentuk lingkarannya sendiri memang tidak disajikan penuh karena keterbatasan tempat. Lagipula toh pembaca sudah bisa mendapatkan garis besarnya. Oh ya, infografis ini juga sangat menekankan poin &#8220;B&#8221; di atas; yaitu membuat bentuk yang sesederhana mungkin. Tidak perlu membuat efek tiga dimensi, atau tergoda membubuhkan warna yang ekstrim. Well, ok&#8230; di luar sana banyak desainer yang &#8220;maksimalis&#8221;. Belum puas bila bentuk dan warnanya belum &#8220;menusuk&#8221; mata. Ya silahkan saja. Toh, seekstrim apapun desainnya, infografis yang berhasil adalah yang bisa menyajikan data yang akurat.</span></p>
<p><a href="http://infografer.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/garut-side-a_ppp.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-35" style="margin-left: 25px;margin-right: 25px" src="http://infografer.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/garut-side-a_ppp-300x274.jpg" alt="" width="300" height="274" /></a><span style="font-weight: normal"><strong>D. BANGUNLAH SAJIAN DATA YANG MUDAH DICERNA</strong></span><span style="font-weight: normal"> Pembaca tidak seharusnya berpikir terlalu keras agar bisa menangkap informasi yang kita sajikan. Lebih baik bila infografis bisa segera dipahami tanpa harus membaca legenda. Bila memang harus ada legenda, buatlah sesedikit mungkin agar pembaca tidak harus bolak-balik antara membaca infografis dan membaca legenda. </span></p>
<p><span style="font-weight: normal"><em>Contoh 3:</em> Di samping kiri ini (silahkan klik untuk gambar yang lebih besar) adalah potongan poster peta wisata Kabupaten Garut, Jawa Barat, untuk NGI edisi Oktober 2009. Ada dua jenis legenda dalam infografis peta ini, yaitu panduan administrasi wilayah, serta keterangan ikon tempat wisata. Hal seperti ini sedikit banyak &#8220;melelahkan&#8221;, karena untuk memahami peta pembaca harus bolak-balik antara peta utama dan dua legenda yang berbeda. Memang saat itu kesulitan kami adalah menangani begitu banyak informasi yang ingin ditampilkan dalam peta ini. Walaupun beberapa informasi telah kami sortir, namun tetap saja secara keseluruhan peta menjadi mandeg karena kelebihan muatan informasi yang harus disajikan. Akhirnya kami memecah ke dalam dua sajian peta, yang disajikan secara bolak balik. Satu sisi yang berhubungan dengan wisata daerah (gambar contoh nomor 3), dan peta informasi tata guna lahan (gambar contoh nomor 4 di bawah ini). </span></p>
<p><a href="http://infografer.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/garut-side-b_ppp.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-37" src="http://infografer.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/garut-side-b_ppp.jpg" alt="" width="500" height="289" /></a><span style="font-weight: normal"><em>Contoh 4:</em> Peta ini (silahkan klik untuk gambar yang lebih besar) lebih fokus karena hanya bercerita tentang eksplorasi bumi di wilayah Garut. Hanya ada satu macam legenda, yaitu tentang pemanfaatan lahan. Nah, seperti Anda lihat, visual di sisi ini pun tidak kalah rumit karena menampilkan citra satelit. Bayangkan bila informasi wisata di sisi sebaliknya harus digabungkan dengan sisi ini, tentu akan amburadul, dan sajian peta tidak akan bisa &#8220;indah&#8221; lagi. </span></p>
<p><span style="font-weight: normal"><strong>E. BUATLAH DATA YANG TRANSPARAN</strong></span><span style="font-weight: normal"> Ingatlah bahwa informasi yang kita berikan bisa mengarahkan pembaca ke dalam asumsi yang salah. Jadi, pastikan bahwa data-data yang disajikan valid dan bisa dipertanggungjawabkan. Selayaknya pembaca juga bisa mengkases sumber-sumber informasi yang menjadi acuan infografis kita. Jadi, cantumkanlah kreditasi dalm tiap sajian infografis kita. </span></p>
<p><span style="font-weight: normal"><strong>F. HARUS UNIK</strong></span><span style="font-weight: normal"> Memang benar, tampilan grafik batang, grafik kue, dan grafik garis adalah juga merupakan tampilan infografis. Namun pleaaassseeee diolah lagi agar tetap tampil unik.</span></p>
<p><a href="http://infografer.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/grafik-batang-sederhana_1p.jpg"><span style="font-weight: normal"><img class="size-full wp-image-41 alignnone" src="http://infografer.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/grafik-batang-sederhana_1p.jpg" alt="" width="280" height="229" /></span></a><span style="font-weight: normal"> </span><a href="http://infografer.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/grafik-batang-sederhana_2p.jpg"><span style="font-weight: normal"><img class="alignnone size-full wp-image-40" src="http://infografer.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/grafik-batang-sederhana_2p.jpg" alt="" width="364" height="199" /></span></a></p>
<p><span style="font-weight: normal"><em>Contoh 5:</em> Kedua grafik di atas bercerita dengan gaya yang sama. Yang kiri adalah &#8216;grafik batang&#8217; yang paling sering kita jumpai. Bercerita tentang perkembangan jumlah bangunan di seputar candi Borobudur. Walau berusaha dipermak dengan warna-warna yang manis, namun tetap membosankan. Yang kanan adalah grafik produksi padi, singkong, dan jagung dalam ton. Ini awalnya juga adalah &#8216;grafik batang&#8217; namun diimbuhi bentuk-bentuk lain agar tampil lebih unik dan lebih menarik pembaca.</span></p>
<p><span style="font-weight: normal">&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</span></p>
<p><span style="font-weight: normal">Nantikan ulasan infografis berikutnya.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Kenapa mereka pilih Android?</title>
		<link>http://teknologi.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/19/kenapa-mereka-pilih-android/</link>
		<comments>http://teknologi.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/19/kenapa-mereka-pilih-android/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 06:59:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alex Pangestu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teknologi.blog.nationalgeographic.co.id/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Juru bicara Google, ketua milis id-android, dan pengguna Android mengungkapkan alasan mereka pakai Android.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut ini pendapat orang-orang, mulai dari orang Google sampai pengguna, mengenai Android.<strong></strong></p>
<p><strong>Seorang juru bicara Google yang namanya tidak bersedia disebut </strong></p>
<p>Android itu dibangun dengan azas keterbukaan. Android  gratis, open source sehingga bisa dipakai oleh pengembang yang berminat,  dan seluruh pembuat ponsel bisa menginstalnya. Dengan membebaskan  orang-orang untuk memakainya, Google yakin Android bisa jadi pemimpin  inovasi demi pengguna ponsel di mana saja.</p>
<p><strong>Agus Hamonangan, pendiri milis id-android@googlegroups.com</strong></p>
<p>Google mengintegrasikan Android dengan layanan lain yang sudah ada,  seperti mesin pencari Google, YouTube, Gmail, dan MySpace. Kita bisa  menonton video dari server mereka tanpa banyak mengalami putus-putus.</p>
<p>Android itu open source sehingga banyak muncul aplikasi yang gratis. Dengan berbasis Linux, Android performanya stabil dan dapat diandalkan. Pengguna juga bisa bebas berkreasi melakukan tuning sehingga lebih baik lagi.</p>
<p>Di luar faktor kecepatan akses dari operator, Android memiliki akses browsing internet yang lebih baik daripada yang lain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Ramai-ramai pakai Android</title>
		<link>http://teknologi.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/19/ramai-ramai-pakai-android/</link>
		<comments>http://teknologi.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/19/ramai-ramai-pakai-android/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 03:37:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alex Pangestu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teknologi.blog.nationalgeographic.co.id/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Di FKI/ICS 2010 di JCC Senayan, gadget bersistem operasi Android bertaburan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di hari pertama Festival Komputer Indonesia 2010  Indonesia Cellular Show di JCC Senayan, Jakarta, banyak gadget bersistem operasi Android diluncurkan. Beberapa yang tampak ke permukaan adalah Acer Liquid E, HTC Wildfire, Nexian Journey, Zyrex One Pad, Huawei SmaKit.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Bersepeda dalam Kesunyian</title>
		<link>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/bersepeda-dalam-kesunyian/</link>
		<comments>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/bersepeda-dalam-kesunyian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 05:44:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fredy Susanto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/?p=494</guid>
		<description><![CDATA[Gerakan Bersepeda dalam Kesunyian atau disebut juga &#8220;Ride of Silence&#8221; pertama kali diadakan di Texas tahun 2003. Adalah Chris Phelan pesepeda yang mengorganisir gerakan ini untuk mengenang temannya Larry Schwartz yang meninggal karena terhantam spion bus sekolah. Semenjak itu, Ride of Silence menyebar ke banyak negara, menjadi seremoni tahunan yang diselenggarakan untuk mengenang para pesepeda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/ros_logo.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/ros_logo-261x300.jpg" alt="" width="261" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-508" /></a>Gerakan Bersepeda dalam Kesunyian atau disebut juga &#8220;Ride of Silence&#8221; pertama kali diadakan di Texas tahun 2003. Adalah Chris Phelan pesepeda yang mengorganisir gerakan ini untuk mengenang temannya Larry Schwartz yang meninggal karena terhantam spion bus sekolah. Semenjak itu, Ride of Silence menyebar ke banyak negara, menjadi seremoni tahunan yang diselenggarakan untuk mengenang para pesepeda yang tewas atau terluka di jalan raya.</p>
<p>Tiga point utama yang membuat  gerakan ini semakin meluas, pertama untuk mengenang pesepeda yang menjadi korban di jalan raya, kedua mengingatkan kembali pesepeda mengenai perlunya kehati-hatian dalam berkendara di jalan raya, dan ketiga untuk mengkampanyekan kepada pengendara kendaraan bermotor mengenai perlunya kepedulian berbagi jalan dengan para pesepeda dan saling menjaga keamanan bersama.</p>
<p>Di pagi kelabu tepat tanggal 12 Juni 2010, Rombongan Kereta Berseli (Rocketers)yang terdiri dari 14 orang mengadakan perjalanan bersepedanya menuju Bogor. Tepat di kawasan Gunung Sindur, Bogor. Empat iring-iringan truk melaju kencang dari arah yang berlawanan. Nasib naas itu terjadi saat truk yang paling belakang berusaha mendahului yang lainnya dengan memakan jalur pesepeda dari arah berlawanan. Adi Nagara yang masih berumur 27 tahun— saat itu bersepeda di pinggir jalan terhantam spion truk dengan kecepatan tinggi. Hari itu menjadi hari kelabu bagi para seluruh komunitas pesepeda di Indonesia. Adi Nagara menjadi salah satu korban karena kelalaian pengguna jalan lainnya. Masih banyak Adi Nagara lainnya yang harus meregang nyawa di lalu lintas.</p>
<p>Pagi ini, saat saya membaca detik.com kembali terulang seorang pesepeda tertabrak kereta api di Palmerah Selatan (<strong>http://www.detiknews.com/read/2010/07/15/112720/1399664/10/pengendara-sepeda-tertabrak-ka-lalu-lintas-palmerah-macet?n991103605</strong>). Sampai saat tulisan ini saya turunkan belum diketahui kronologi pasti mengapa pesepeda itu bisa tertabrak kereta api. Ini bukan tulisan menghakimi kesalahan sesorang atau pihak lain, tetapi tulisan yang mengingatkan kita semua bahwa apapun itu kendaraan kita, disiplin dan saling menghormati pemakai jalan sangat diperlukan. Biarkan ini menjadi pembelajaran kita semua.</p>
<div id="attachment_504" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/35396_431203230134_532470134_5555636_889854_n.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/35396_431203230134_532470134_5555636_889854_n.jpg" alt="Fredy Susanto" width="500" height="375" class="size-full wp-image-504" /></a><p class="wp-caption-text">Lilin-lilin untuk mengenang Adi Nagara dan korban pesepeda lainnya. Ride of Silence yang diadakan Bike to Work pada tanggal 18 Juni 2010.—Foto: Fredy Susanto</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Antivirus bukan babysitter</title>
		<link>http://teknologi.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/14/antivirus-bukan-babysitter/</link>
		<comments>http://teknologi.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/14/antivirus-bukan-babysitter/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jul 2010 04:03:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alex Pangestu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teknologi.blog.nationalgeographic.co.id/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Menjaga anak-anak di internet cukup dengan antivirus? Oh jelas tidak.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berinternet tanpa perangkat keamanan sama sekali ibarat membuka pintu rumah lebar-lebar pas mudik dan bikin pengumuman &#8220;Ayo maling, silakan masuk. Televisi di sebelah sana. PS2 ada di kamar anak. Komputer ada di ruangan sana. Laptopnya ada di laci di bawah meja komputer.&#8221;</p>
<p>Pasang perangkat keamanan apa otomatis aman? Iya! Tapi, enggak seratus persen. Maling punya seribu cara untuk membobol. Paling enggak, dengan perangkat keamanan yang tepat plus kebiasaan berinternet yang tepat, orang bisa aman 90 persen. Sayangnya, ancaman di internet bukan cuma virus, spyware, dan program jahat lainnya.</p>
<p>Contohnya ini: video artis beradegan &#8220;ah uh ah uh&#8221;. Pornografi, kekerasan, dan orang asing adalah tiga contoh ancaman di internet, khususnya bagi anak-anak. Nah, ini dia yang repot: menjaga anak-anak di internet.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Lahan parkir, cermin ketimpangan pembangunan?</title>
		<link>http://areahijau.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/lahan-parkir-cermin-ketimpangan-pembangunan/</link>
		<comments>http://areahijau.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/lahan-parkir-cermin-ketimpangan-pembangunan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 09:23:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Firman Firdaus</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://areahijau.blog.nationalgeographic.co.id/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu, saat berkunjung ke Universitas Indonesia, Depok, saya menemukan perubahan yang begitu mencolok, setidaknya sejak saya lulus dari sana sembilan tahun lalu: bergantinya ruang terbuka hijau menjadi lahan parkir.
Hampir di semua fakultas, lahan yang ditumbuhi pepohonan tinggi tempat para mahasiswa biasa rehat atau sekadar melintas, dipapas, digantikan oleh beton dan konblok tempat mobil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, saat berkunjung ke Universitas Indonesia, Depok, saya menemukan perubahan yang begitu mencolok, setidaknya sejak saya lulus dari sana sembilan tahun lalu: bergantinya ruang terbuka hijau menjadi lahan parkir.</p>
<p>Hampir di semua fakultas, lahan yang ditumbuhi pepohonan tinggi tempat para mahasiswa biasa rehat atau sekadar melintas, dipapas, digantikan oleh beton dan konblok tempat mobil nongkrong. Saya mulai berpikir, apakah kampus ini didesain untuk para mahasiswa atau untuk mobil, karena sepertinya rasio antara taman dan tempat parkir di kampus UI Depok mulai tidak manusiawi.</p>
<p>Dalam perbincangan dengan Prof Gunawan Tjahyono, dosen arsitektur UI yang juga pecinta lingkungan, dia mengatakan semestinya ada kompensasi material bagi setiap luasan lahan yang beralih-guna menjadi tempat parkir, yang dibebankan ke para pemilik mobil. Masuk akal, meski terdengar utopis.</p>
<p>Kalau kita mau tarik ke lingkungan yang lebih luas, katakanlah Jakarta, kondisinya sama saja. Ledakan populasi kelas menengah telah memicu peningkatan jumlah pemilik mobil, membuat kebutuhan untuk lahan parkir menjadi sebuah keniscayaan. Dan yang menjadi korban biasanya lahan terbuka publik.</p>
<p>Pengelola lingkungan kampus UI Depok, atau Pemprov DKI, mungkin perlu belajar dari Enrique Peñalosa. Peñalosa adalah walikota Bogota, Kolombia, selama tiga tahun. Saat dia mulai menjabat pada 1998, hal pertama yang terpikir olehnya adalah bagaimana meningkatkan kualitas hidup 70 persen warga—mayoritas—yang tidak punya mobil.</p>
<p>Peñalosa sadar, kota yang nyaman bagi anak-anak dan orang-orang tua mungkin juga nyaman bagi setiap orang. Di bawah kepemimpinannya, Bogota pun menciptakan dan merenovasi 1.200 taman, memperkenalkan sistem transportasi massal (yang kemudian kita adaptasi secara serampangan dalam bentuk busway), membangun ratusan kilometer jalur pesepeda dan trotoar bagi pejalan kaki, mengurangi kemacetan hingga 40 persen, menanam 100.000 pohon, dan melibatkan warga secara aktif untuk memperbaiki lingkungan tempat mereka tinggal. Filosofi perencanaan perkotaan sejenis juga diterapkan oleh Jaime Lerner saat menjadi walikota Curitiba, Brasil, dengan menerapkan sistem transportasi massal yang terjangkau dan ramah penglaju (<em>commuter</em>).</p>
<p>Dalam perbandingan yang mungkin tidak “apple to apple”, filosofi untuk mereduksi penggunaan mobil pribadi juga terjadi di Eropa. Sebanyak 35 persen warga Amsterdam bersepeda atau berjalan kaki ke kantor, seperempatnya menggunakan sarana umum, dan 40 persen menyetir. Di Paris, kurang dari setengah penglaju mengandalkan mobil.</p>
<p>Para desainer di New York bahkan meramalkan, pada 2038, sebanyak 60 persen New Yorker akan jalan kaki ke kantor, dan kota tersebut akan menjadi &#8220;surga pejalan kaki&#8221;.</p>
<p>Mungkin sudah saatnya pula para walikota dan penata kota di Tanah Air, atau pengelola lingkungan yang lebih kecil seperti kampus UI Depok atau kawasan perkantoran mulai berpikir untuk membangun kota untuk manusia, bukan untuk mobil (pribadi). Integrasi jalur pejalan dan sepeda menuju sarana transportasi massal akan membuat kota terasa lebih nyaman untuk ditinggali. Polusi udara, suara, belum lagi gangguan psikologis akibat kemacetan pun bakal berkurang. Hidup sehat itu lebih enak, bukan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Indonesia-AS Jalin Kemitraan Bahari</title>
		<link>http://areahijau.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/indonesia-as-jalin-kemitraan-bahari/</link>
		<comments>http://areahijau.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/indonesia-as-jalin-kemitraan-bahari/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 10:17:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Firman Firdaus</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://areahijau.blog.nationalgeographic.co.id/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kurun waktu Juli-Agustus 2010, kapal penelitian Amerika Serikat, Okeanos Explorer akan bergabung dengan Baruna Jaya IV, kapal penelitian Indonesia, guna melakukan ekspedisi ilmiah di perairan Sangir-Talaud, Sulawesi Utara.
Kerja sama ini secara resmi diluncurkan pada Rabu (26/5) oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat RI, Agung Laksono, dan Sekretaris Niaga AS, H.E. Gary Locke di sela-sela acara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam kurun waktu Juli-Agustus 2010, kapal penelitian Amerika Serikat, Okeanos Explorer akan bergabung dengan Baruna Jaya IV, kapal penelitian Indonesia, guna melakukan ekspedisi ilmiah di perairan Sangir-Talaud, Sulawesi Utara.</p>
<p>Kerja sama ini secara resmi diluncurkan pada Rabu (26/5) oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat RI, Agung Laksono, dan Sekretaris Niaga AS, H.E. Gary Locke di sela-sela acara Perayaan Kemitraan Bahari Indonesia-AS di Pelabuhan Nelayan Komersial Muara Baru, Jakarta Utara.</p>
<p>Agung menyatakan penelitian ini sejalan dengan program pembangunan bahari Indonesia dan merupakan tindak lanjut dari Deklarasi Kelautan Manado (Manado Ocean Declaration) yang dicanangkan dalam World Ocean Conference di Sulawesi Utara tahun lalu. &#8220;Implementasi penelitian ini juga akan menguntungkan bagi para nelayan pada umumnya, skala besar maupun kecil,&#8221; ujar Agung. </p>
<p>Penelitian akan difokuskan pada morfologi laut, pemetaan <em>bathymetri</em> untuk mengetahui kontur dan kedalaman laut, oseanografi, serta karakteristik habitat di perairan tersebut. “Penelitian ini juga akan mencoba menggali potensi hidrotermal di wilayah tersebut beserta studi dampak aktivitas hidrotermalnya,” ujar Budi Sulistyo, Direktur Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Non-tinggal, Departemen Kelautan dan Perikanan. </p>
<p>Selain menjadi penelitian pertama di perairan pulau-pulau terdepan tersebut, Budi menjelaskan, kajian bersama tim dari AS ini merupakan yang pertama yang melibatkan beberapa disiplin ilmu, yakni bidang kelautan, geologi, dan habitat.</p>
<p>Indonesia dan AS merupakan kontributor bagi Prakarsa Segitiga Terumbu Karang atau Coral Triangle Initiative (CTI), kemitraan antara enam negara Asia Tenggara-Pasifik. Sekitar sepertiga sumber daya pesisir dan laut di daerah ini secara langsung menjadi tempat bergantungnya mata pencaharian masyarakat di daerah tersebut. </p>
<p>Dengan memahami kondisi fisik laut di kawasan tersebut,dapat diambil langkah-langkah terbaik untuk menerapkan pengelolaan perikanan dan pelestarian lingkungan laut secara berkelanjutan, termasuk upaya melindungi spesies yang terancam punah seperti penyu laut, hiu dan beberapa jenis tuna. Hal yang tidak kalah penting adalah sebagai bekal untuk mengurangi dampak perubahan iklim yang kian mengancam.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>melengkapi kunjungan lintang - bujur nol derajat</title>
		<link>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/25/melengkapi-kunjungan-lintang-bujur-nol-derajat/</link>
		<comments>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/25/melengkapi-kunjungan-lintang-bujur-nol-derajat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 16:33:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ukirsari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[ 

ketika ekspedisi national geographic traveler: wisata lintas barat sumatra berakhir dan saya menuliskan tentang D12+, masih saja tersisa kebanggaan.
kebanggaan  di urutan terdepan, tentu saja misi institusi yang telah dilaksanakan sebaik-baiknya. kedua, keinginan untuk menyajikan yang terbaik bagi pembaca kami &#8211;meski harus menunggu jadwal terbit yang tidak dapat disebut sebentar.
tapi di luar itu semua, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/greenwich1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-287" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/greenwich1-147x300.jpg" alt="" width="147" height="300" /></a></p>
<p>ketika ekspedisi <strong>national geographic traveler: wisata lintas barat sumatra</strong> berakhir dan saya menuliskan tentang D12+, masih saja tersisa kebanggaan.</p>
<p>kebanggaan  di urutan terdepan, tentu saja misi institusi yang telah dilaksanakan sebaik-baiknya. kedua, keinginan untuk menyajikan yang terbaik bagi pembaca kami &#8211;meski harus menunggu jadwal terbit yang tidak dapat disebut sebentar.</p>
<p>tapi di luar itu semua, terselip kebahagiaan saya pribadi.</p>
<p>(c) ukirsari, automaticly taken in 2007, winter soltice</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>redeploying days (D12+)</title>
		<link>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/10/redeploying-days-d12/</link>
		<comments>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/10/redeploying-days-d12/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 16:39:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ukirsari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[ 
dua hari silam (08/05), tepat pukul 18.18 wib, faisal lubis dan ucok syofiardi lubis, dua driver andalan Team A dan Team B dari ekspedisi &#8220;Wisata Lintas Barat Sumatra&#8221; mengabarkan kepulangan mereka berdua dengan toyota innova ke jakarta.
senada,  toyota hilux double cabin &#8211;wahana transportasi saya bersama Team B&#8211; telah dipulangkan &#8216;daing&#8217; azril dan bayu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/bonjol11.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-269" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/bonjol11-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>dua hari silam (08/05), tepat pukul 18.18 wib, faisal lubis dan ucok syofiardi lubis, dua <em>driver</em> andalan Team A dan Team B dari ekspedisi &#8220;Wisata Lintas Barat Sumatra&#8221; mengabarkan kepulangan mereka berdua dengan toyota innova ke jakarta.</p>
<p>senada,  toyota hilux double cabin &#8211;wahana transportasi saya bersama Team B&#8211; telah dipulangkan &#8216;daing&#8217; azril dan bayu ke medan sehari sebelumnya.</p>
<p>dengan pemberitaan itu, ekspedisi yang melibatkan rekan-rekan kerja dari National Geographic Traveler dan harian Kompas ini resmi berakhir.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>mission accomplished! (D11)</title>
		<link>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/mission-accomplised-d11/</link>
		<comments>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/mission-accomplised-d11/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 15:35:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ukirsari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[

thanks so much! this is flight lieutenant t-bear and this morning, at may 5th at 09.48,55 am my mum bought me a smallest tee-shirt entitled &#8220;i crossed the equator line&#8221;. this marked that both of the team in the expedition of &#8220;Wisata Lintas Barat Sumatra&#8221; had been done completely. wow, congrats, mum! i see how [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_3382.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-233" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_3382.jpg" alt="" width="500" height="332" /></a><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_3389.jpg"><br />
</a></p>
<p><em>thanks so much! this is flight lieutenant t-bear and this morning, at may 5th at 09.48,55 am my mum bought me a smallest tee-shirt entitled &#8220;i crossed the equator line&#8221;. this marked that both of the team in the expedition of &#8220;Wisata Lintas Barat Sumatra&#8221; had been done completely. wow, congrats, mum! i see how busy she is to take my picture and mingle around both team then smile and hugging to each other. if i can borrow a mountaineering idioms, i feel it&#8217;s just like preparing for a summit attack and there you go. all members gather in the finish line. mission accomplished, guys! and oom reynold &#8211;who&#8217;s shy person to be in front of camera&#8211; took me to cover his face and asked mum that he wants to be pictured. daddy … we&#8217;ll be home again soon!!!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>melacak jejak portugis dan belanda di natal (D10)</title>
		<link>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/melacak-jejak-portugis-dan-belanda-di-natal-d10/</link>
		<comments>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/melacak-jejak-portugis-dan-belanda-di-natal-d10/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 15:27:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ukirsari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[this is your flight lieutenant t-bear speaking, today is chill-out, all of the team members are ready to explore mandailing natal. my mum, oom feri, oom mahdi and oom ucok can not help but laugh sometimes somehow since all the acronym sounds funny and out of their mind. but that&#8217;s part of the journey, how [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_2924.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-226" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_2924-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><em>this is your flight lieutenant t-bear speaking, today is chill-out, all of the team members are ready to explore mandailing natal. my mum, oom feri, oom mahdi and oom ucok can not help but laugh sometimes somehow since all the acronym sounds funny and out of their mind. but that&#8217;s part of the journey, how local &#8220;celebrate&#8221; their ability to build communication and speaking its language, called &#8220;melayu pesisir&#8221;, so here they go. ugd doesn&#8217;t mean &#8220;unit gawat darurat&#8221; or emergency unit in formal language, it&#8217;s mean &#8216;ujung gading&#8217;. same as they say &#8220;madina&#8221; to express the complete name &#8220;mandailing natal&#8221;. all nice high ground to see the scenery (normally at the hill top) or we said in english as simple as &#8216;panoramic view&#8217; said as &#8220;panatapan&#8221;. i just remember one of my parents&#8217; friend from france, alois aurelle who likes to say &#8220;it&#8217;s so zimple&#8221;  (with &#8216;z&#8217; in the end, hehehee). this is the full report, written by my mum as usual</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>riding the car with the boys (D9)</title>
		<link>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/riding-the-car-with-the-boys-d9/</link>
		<comments>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/riding-the-car-with-the-boys-d9/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 15:15:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ukirsari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[this is flight lieutenant t-bear and i&#8217;m sorry to use one of drew barrymore&#8217;s movie “riding the car with the boys” as entitlement. i just want to explain my mum&#8217;s feeling to be in a team with the boys. They&#8217;re helpful, fully dedicated to their works and ahem, handsome for sure  this is what [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_3194.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-221" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_3194-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><em>this is flight lieutenant t-bear and i&#8217;m sorry to use one of drew barrymore&#8217;s movie “riding the car with the boys” as entitlement. i just want to explain my mum&#8217;s feeling to be in a team with the boys. They&#8217;re helpful, fully dedicated to their works and ahem, handsome for sure <img src='http://blog.nationalgeographic.co.id/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> this is what my mum&#8217;s writing today.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>catch the rainbow (D8)</title>
		<link>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/catch-the-rainbow-d8/</link>
		<comments>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/catch-the-rainbow-d8/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 15:05:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ukirsari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[yipiiii &#8230; flight lieutenant t-bear is on the road again with Team B from the expedition of “Wisata Lintas Barat Sumatra”. from the small lively city of pakkat we&#8217;re heading to barus, known as one amongst the oldest cities in the west coastal zone of sumatra. here the complete report written by mum.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_2264.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-218" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_2264-300x192.jpg" alt="" width="300" height="192" /></a><em>yipiiii &#8230; flight lieutenant t-bear is on the road again with Team B from the expedition of “Wisata Lintas Barat Sumatra”. from the small lively city of pakkat we&#8217;re heading to barus, known as one amongst the oldest cities in the west coastal zone of sumatra. here the complete report written by mum.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>tikungan seribu masalah (D7)</title>
		<link>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/tikungan-seribu-masalah-d7/</link>
		<comments>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/tikungan-seribu-masalah-d7/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 14:55:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ukirsari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[this is flight lieutenant t-bear, reporting live from our beloved car, toyota hi lux double cab in the very memorable event &#8220;Wisata Lintas Barat Sumatra&#8221; in B Team (b … is that taken from &#8220;bear&#8221;, since mostly team members looks like a cuddly bear except a skinny one, oom ucok? hehehe … do not ask [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_2118.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-211" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_2118-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><em>this is flight lieutenant t-bear, reporting live from our beloved car, toyota hi lux double cab in the very memorable event &#8220;Wisata Lintas Barat Sumatra&#8221; in B Team (b … is that taken from &#8220;bear&#8221;, since mostly team members looks like a cuddly bear except a skinny one, oom ucok? hehehe … do not ask me, i just jokingly said). what i want to tell you all for this daily report just be careful along the way that lead you home again!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Setahun Perjuangan sang Pelajar</title>
		<link>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/setahun-perjuangan-sang-pelajar/</link>
		<comments>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/setahun-perjuangan-sang-pelajar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 14:42:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fredy Susanto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/?p=463</guid>
		<description><![CDATA[
&#8220;Kasian paru-paru generasi muda kita&#8221;, itulah salah satu komentar pembaca pada salah satu arikel mengenai Bike To School di sebuah website berita online.Pada awalnya, bahkan hingga sekarang beragam tanggapan mengenai Bike to School masih tetap terdengar, baik dari yang mendukung maupun yang menentang. Umumnya mereka yang menentang adalah para orang tua yang khawatir akan kondisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/a.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/a-300x225.jpg" alt="" width="320" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-479" /></a></p>
<p>&#8220;Kasian paru-paru generasi muda kita&#8221;, itulah salah satu komentar pembaca pada salah satu arikel mengenai Bike To School di sebuah website berita online.Pada awalnya, bahkan hingga sekarang beragam tanggapan mengenai Bike to School masih tetap terdengar, baik dari yang mendukung maupun yang menentang. Umumnya mereka yang menentang adalah para orang tua yang khawatir akan kondisi jalanan dan polusi udara di Ibukota.</p>
<p>Di hari Minggu pada tanggal 3 mei 2009 tepat di depan Museum Sejarah Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo meresmikan terbentuknya Bike to School. Sebuah komunitas pesepeda yang digawangi oleh para pelajar. Sama seperti sesepuhnya—Bike to Work, misinya adalah untuk menyebarkan virus bersepeda sebagai transportasi sehari-hari kepada para pelajar yang lain. Mungkin beberapa dari kita masih mengalami jaman bersepeda untuk pergi ke sekolah, baik itu di masa lalu ataupun di masa sekarang. Tetapi bagaimana dengan generasi muda yang umumnya tinggal di daerah perkotaan di masa kini? </p>
<p>Kita tidak bisa memaksa atau menyalahkan mereka yang menggunakan mobil atau motor untuk transportasi pergi dan pulang sekolah. Kondisi jalan, perilaku pengguna jalan yang lain, polusi udara, sampai cuaca yang terik, semuanya tidak mendukung bersepeda yang nyaman seperti kota-kota maju lainnya di dunia. </p>
<p>Ini tentu saja bukan tulisan mengenai benar atau salah, tetapi tujuan saya menulis ini adalah mengenai kekaguman saya terhadap segelintir pelajar yang meskipun mereka mungkin memiliki motor atau mobil tetapi mereka masih menyempatkan diri menggunakan sepeda sebagai transportasi  ke sekolah meskipun tidak setiap hari. Ini mengenai kekaguman saya bahwa mereka berasal dari sekolah yang berbeda-beda kemudian saling mengenal dan berteman, tidak seperti segelintir pelajar yang lebih suka tawuran. Ini mengenai kekaguman saya, meskipun mereka berasal dari golongan ekonomi yang berbeda-beda, tetapi mereka tidak pernah pandang bulu dan bersatu untuk menularkan virus bersepeda kepada pelajar-pelajar yang lain.</p>
<p>Singkat kata, &#8220;Selamat ulang tahun Bike to School! Tetap perjuangkan prinsip yang telah kalian pegang selama ini.</p>
<div id="attachment_481" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/b.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/b.jpg" alt="Bike to School bersama mantan Menristek Kusmayanto Kadiman (ujung kanan)." width="500" height="375" class="size-full wp-image-481" /></a><p class="wp-caption-text">Bike to School bersama mantan Menristek Kusmayanto Kadiman (ujung kanan).</p></div>
<div id="attachment_489" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/d.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/d.jpg" alt="Bike to School saat berkumpul di Bundaran HI" width="500" height="375" class="size-full wp-image-489" /></a><p class="wp-caption-text">Bike to School saat berkumpul di Bundaran HI</p></div>
<div id="attachment_485" class="wp-caption alignnone" style="width: 460px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/c.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/c.jpg" alt="Bersama beberapa anggota Bike to School saat offroaddi telaga warna." width="450" height="600" class="size-full wp-image-485" /></a><p class="wp-caption-text">Bersama beberapa anggota Bike to School saat offroad di telaga warna.</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
</channel>
</rss>
<!-- 172 queries 0.515 seconds. -->
