<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.6.3" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>Blog National Geographic Indonesia</title>
	<link>http://blog.nationalgeographic.co.id</link>
	<description>Shows all posts, comments, and pages from all blogs on this WPMU powered site</description>
	<pubDate>Thu, 12 Apr 2012 03:19:04 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.3</generator>
	<language>en</language>
	<item>
		<title>Event: Kontes Design Infografik</title>
		<link>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2012/04/12/event-kontes-design-infografik/</link>
		<comments>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2012/04/12/event-kontes-design-infografik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2012 03:19:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Promosi Online</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[EventNGI]]></category>

		<category><![CDATA[Regional Jakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://event.blog.nationalgeographic.co.id/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[
Tentang Infografisme
Infografisme adalah kontes desain infografik pertama di Indonesia  yang terbuka untuk umum. Kontes ini dibuka mulai April 2012 dan akan  ditutup pada 16 Mei 2012. Karya-karya yang telah masuk akan dipilih dan  ditentukan pemenangnya.
Penjurian kontes Infografisme akan dilakukan oleh sejumlah praktisi  di bidang desain grafis dan video. Informasi pengumuman pemenang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><a href="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2012/04/infografisme_ngi.jpg"><img class="size-full wp-image-270 aligncenter" src="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2012/04/infografisme_ngi.jpg" alt="" width="500" height="707" /></a></p>
<p><strong>Tentang Infografisme</strong></p>
<p>Infografisme adalah kontes desain infografik pertama di Indonesia  yang terbuka untuk umum. Kontes ini dibuka mulai April 2012 dan akan  ditutup pada 16 Mei 2012. Karya-karya yang telah masuk akan dipilih dan  ditentukan pemenangnya.</p>
<p>Penjurian kontes Infografisme akan dilakukan oleh sejumlah praktisi  di bidang desain grafis dan video. Informasi pengumuman pemenang bisa  Anda peroleh pada pada 23 Mei 2012 di web ini dan di situs  salingsilang.com.</p>
<p>Kontes ini akan memilih 2 (dua) orang pemenang, 1 (satu) pemenang  untuk kategori Videografik dan 1 (satu) pemenang untuk kategori  Infografik.</p>
<p><strong>Peraturan</strong></p>
<p>Kontes terbagi atas 2 kategori: Infografik dan Videografik. Kontes  ini dimulai April 2012 dan ditutup pada 16 Mei 2012.  Penjurian akan  dilakukan pada 23 Mei 2012 dan pemenang akan diumumkan pada 26 Mei 2012.</p>
<p>Yang dinilai dari infografik atau videografik, meliputi: proses,  perkembangan, perbandingan, peta masalah, warna, jenis huruf, layout dan  sistematika penjabaran data, serta pesan yang disampaikan (cerita dan  unsur informatif).</p>
<p><strong>KONTES INFOGRAFIK</strong></p>
<p>1. Kontes terbuka untuk umum<br />
2. Tema infografik bebas<br />
3. Infografik adalah hasil orisinal dan belum pernah dilombakan sebelumnya<br />
4. Penilaian infografik didasarkan pada orisinalitas ide, desain, kreativitas, dan keakuratan data.<br />
5. Diperkenankan untuk menggunakan data dari luar negeri dengan tetap menyertakan sumber data di dalam infografik<br />
6. Format Infografik bisa landscape atau portrait dengan ukuran maksimal A4<br />
7. Diharapkan melampirkan judul dan deskripsi singkat mengenai Infografik tersebut<br />
8. Setiap peserta maksimal mengirimkan 3 karya infografik.<br />
9. Apabila ada foto di dalam Infografik dimohon untuk menyebutkan sumber foto.<br />
10. Keputusan dewan juri mutlak dan tidak bisa digugat.</p>
<p><strong>KONTES VIDEOGRAFIK</strong></p>
<p>1. Kontes terbuka untuk umum<br />
2. Peserta hanya bisa mengirimkan karya videografiknya melalui e-mail.<br />
3. Tema videografik bebas.<br />
4. Penilaian didasarkan pada orisinalitas ide, desain, kreativitas, dan keakuratan data.<br />
5. Videografik adalah hasil orisinal dan belum pernah dilombakan sebelumnya<br />
6. Diperkenankan untuk menggunakan data dari luar negeri dengan tetap menyertakan sumber data di dalam videografik.<br />
7. Videografik sudah diunggah oleh peserta ke Youtube atau Vimeo, lalu kirim link video tersebut dalam e-mail<br />
8. Diharapkan melampirkan judul dan deskripsi singkat mengenai Videografik tersebut.<br />
9. Setiap peserta maksimal mengirimkan 3 karya videografik.<br />
10. Apabila di dalam video terdapat musik atau lagu yang diambil dari  artis/penyanyi, maka peserta dimohon untuk menyebutkan sumbernya.<br />
11. Keputusan dewan juri mutlak dan tidak bisa digugat.</p>
<p><strong>PRASYARAT UMUM</strong></p>
<p>1. Kontes ini terbuka untuk umum, WNI, perorangan atau kelompok<br />
2. Kontes ini tertutup bagi panitia, dewan juri, karyawan Salingsilang.com dan keluarganya<br />
3. Kontes ini tidak memungut biaya apapun<br />
4. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu infografik<br />
5. Peserta wajib melampirkan surat pernyataan yang menjelaskan bahwa  karyanya belum pernah dipublikasikan dan merupakan hasil karya sendiri<br />
6. Melampirkan data diri dan foto copy KTP, SIM, Paspor atau Kartu pelajar<br />
7. Infografik bisa langsung diunggah ke website resmi “Infografisme”<br />
8. Pengumuman pemenang akan dilakukan pada 26 Mei 2012 di situs infografisme.com ini dan salingsilang.com</p>
<p>Hadiah Kontes Infografisme untuk 2 pemenang, masing-masing berupa 1  unit radio kayu unik Magno Cube &amp; Rec WR03-RECT special edition.</p>
<p>Pengiiriman karya: <a href="http://infografisme.com/submit">http://infografisme.com/submit</a></p>
<p>Info lengkap:</p>
<p>Panitia Kontes Infografisme<br />
TW: <a href="http://twitter.com/#%21/idinfografisme">@IDInfografisme</a><br />
FB: infografisme<br />
E-mail: <a title="Tanya Infografisme" href="mailto:%20kontak@infografisme.com" target="_blank">kontak@infografisme.com</a><br />
Telp: 021-7250616<br />
Faks: 021-7262154</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Pameran Foto Imatajinasi</title>
		<link>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2012/03/15/pameran-foto-imatajinasi/</link>
		<comments>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2012/03/15/pameran-foto-imatajinasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Mar 2012 15:15:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Promosi Online</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://event.blog.nationalgeographic.co.id/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[
Menyambut 20 Tahun Pengabdian Galeri Foto Jurnalistik Antara,
Kami mengundang Sahabat untuk menghadiri :
Pameran Foto &#8220;IMATAJINASI&#8221;,
Karya 32 Fotografer muda,
peserta Workshop Angkatan XVII Galeri Foto Jurnalistik Antara:
A. Adi Setyo &#124; Adi Siswanto &#124; Agung Pambudhy &#124; Agus Surya Supriyanto &#124; Anas Malik &#124; Andrew Prawiro Hakim &#124; Ariyani Sukma &#124; Arya Pradana &#124; Atet Dwi Pramadia &#124;Atho’ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><a href="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2012/03/imatajinasi-gfja1.jpg"><img class="size-full wp-image-265 aligncenter" src="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2012/03/imatajinasi-gfja1.jpg" alt="" width="500" height="741" /></a></p>
<p>Menyambut 20 Tahun Pengabdian Galeri Foto Jurnalistik Antara,<br />
Kami mengundang Sahabat untuk menghadiri :</p>
<p>Pameran Foto &#8220;IMATAJINASI&#8221;,</p>
<p>Karya 32 Fotografer muda,<br />
peserta Workshop Angkatan XVII Galeri Foto Jurnalistik Antara:</p>
<p>A. Adi Setyo | Adi Siswanto | Agung Pambudhy | Agus Surya Supriyanto | Anas Malik | Andrew Prawiro Hakim | Ariyani Sukma | Arya Pradana | Atet Dwi Pramadia |Atho’ Ullah | Baskara Kuswijayanto | Bayu Amde Winata | Danis Arbi | Dian Triyuli Handoko | Dian Prastiti Utami | Devinoraya Radityapalma | Dwi Wahyu Lestari | Fajar Ambya | Fernando Randy | Grandyoso Zafna | Jessica Margaretha | Josephine Inggri Ayuningtyas | Lavanda Wirianata | M. Abdul Aziz | Muhammad Rizan | Mulia Santoso | Putra Sophan Pribadi | Rikiti Sabila | Rizki Nurul Madinah | Salwa Masyhur | Sumarno | Vita Khairunisa |</p>
<p>JUM’AT 16 MARET 2012<br />
PUKUL 19.00 WIB OLEH:<br />
AHMAD MUKHLIS YUSUF (DIRUT KANTOR BERITA ANTARA)<br />
RIRI RIZA (SUTRADARA)<br />
JOSE RIZAL MANUA (DRAMAWAN)</p>
<p>GALERI FOTO JURNALISTIK ANTARA<br />
Jl. Antara No. 59 Pasar Baru, Jakarta 10710<br />
T/F: 021-3458771, www.gfja.org<br />
Yahoo!Groups: http://groups.yahoo.com/group/gfja<br />
twitter: @galeriantara @imatajinasi<br />
facebook: http://www.facebook.com/group.php?gid=19164023720<br />
Map: http://bit.ly/cJPqm8</p>
<p>FLOAT<br />
COMPROMISED EGO<br />
AMAN PERCUSSION<br />
KROSBOI<br />
THE BOBROCKS<br />
ENCE BAGUS (STAND UP COMEDY)</p>
<p>TERBUKA UNTUK UMUM<br />
16 Maret – 16 April 2012<br />
JAM BUKA : 10:30 – 20:00 WIB</p>
<p>Acara pembukaan dan pameran TIDAK dipungut biaya (GRATIS)<br />
No dresscode</p>
<p>#Gallery Talk:<br />
Sabtu,14 April 2012<br />
Pukul 15.00<br />
&#8220;How to Be A Photojournalist&#8221;<br />
Hermanus Prihatna (Kepala Divisi Mandiri Pemberitaan Foto Antara)<br />
Hariyanto (Askadiv Foto Media Indonesia)<br />
Neo Journalism Club<br />
Jl.Antara No.61 Pasar Baru<br />
Jakarta 10710</p>
<p>#Imatajinasi Goes to Campus</p>
<p>Kamis,29 Maret 2012<br />
Edy Purnomo (Fotografer)<br />
Univ.Muhammadiyah Prof.DR.Hamka<br />
Jl.Limau II, Kebayoran Baru<br />
Jakarta Selatan</p>
<p>Kamis,5 April 2012<br />
Agan Harahap (Fotografer)<br />
Universitas Mercu Buana<br />
Jl.Meruya Selatan,Kembangan<br />
Jakarta Barat 11650</p>
<p>DIDUKUNG OLEH :</p>
<p>ANTARA FOTO, http://www.antarafoto.com/<br />
PACKET SYSTEMS,http://www.dmxtechnologies.com/packet-systems/<br />
PT. INDONESIA PRINTER, http://www.indonesiaprinter.co.id/<br />
CISCO<br />
PAPERINA, http://www.paperina.com/<br />
GLOBE DIGITAL PRINTING,cs@globe-ps.com<br />
RUMAH EDUKASI,http://www.rumahedukasi.com/<br />
PT. ASTAMULYA MANDIRI<br />
V-SEE<br />
NEO JOURNALISM CLUB<br />
BLUES4FREEDOM<br />
NATIONAL GEOGRAPHIC INDONESIA,http://nationalgeographic.co.id/<br />
FOTOKITA.NET,http://fotokita.net/<br />
SOUND TEAM<br />
iCREATE, http://www.icreatemagazine.com/<br />
PROVOKE!, http://provoke-online.com/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>CULTURAL TRIP TO BANYUMAS</title>
		<link>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2012/03/14/cultural-trip-to-banyumas/</link>
		<comments>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2012/03/14/cultural-trip-to-banyumas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Mar 2012 01:05:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Promosi Online</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[EventNGT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://event.blog.nationalgeographic.co.id/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[
CULTURAL TRIP TO BANYUMAS
23-25 Maret 2012
[ Program ini dipersembahkan oleh Gelar didukung National Geographic Traveler ]
MELACAK JEJAK LENGGER TERAKHIR
Hidup segan mati tak mau. Begitulah kira-kira gambaran tentang lengger, salah satu kesenian rakyat tradisional Banyumas. Para pelaku tari ini sudah semakin berkurang, dan yang masih ada pun sudah jarang menarikannya lagi. Menelusuri lengger berarti harus merentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2012/03/fa-cultural-trip-ad-banyumas1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-259" src="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2012/03/fa-cultural-trip-ad-banyumas1.jpg" alt="" width="500" height="630" /></a></p>
<p>CULTURAL TRIP TO BANYUMAS<br />
23-25 Maret 2012</p>
<p>[ Program ini dipersembahkan oleh Gelar didukung National Geographic Traveler ]</p>
<p>MELACAK JEJAK LENGGER TERAKHIR<br />
Hidup segan mati tak mau. Begitulah kira-kira gambaran tentang lengger, salah satu kesenian rakyat tradisional Banyumas. Para pelaku tari ini sudah semakin berkurang, dan yang masih ada pun sudah jarang menarikannya lagi. Menelusuri lengger berarti harus merentang sejarah yang panjang.</p>
<p>Buku History of Java karya Sir Stamford Raffles menyebutkan, hampir di seluruh pulau Jawa memiliki jenis tarian pergaulan ini dengan sebutan yang beragam :  ronggeng, ledhek, tayub, tandhak, sampai gandrung. Tarian pergaulan ini memang sudah dikenal sejak jaman Majapahit di abad ke13. Pada zaman Mataram, kelompok tayub yang berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, bisa menjadi alat spionase politik yang memantau daerah-daerah wilayah kekuasaan kerajaan. Konon, Panembahan Senapati pernah memerintahkan putrinya, Sekar Pembayun, agar menyamar menjadi penari tayub untuk memikat dan menaklukan pemberontak Ki Ageng Mangir yang menolak tunduk dibawah kekuasaan Mataram saat itu.</p>
<p>Meski kini kesenian lengger kerap dianggap berada dalam wilayah abu-abu karena kadang terselip gerakan erotis, secara tradisional lengger sebenarnya merupakan sebuah ritus kesuburan dimana ketika sang lengger berkeliling dari desa ke desa, kehadirannya dianggap dapat membawa berkah keturunan bagi pasangan suami-istri.</p>
<p>Di Banyumas, tarian lengger ini tak hanya dibawakan oleh wanita, namun juga laki-laki, dan diiringi oleh seperangkat alat musik yang tidak ditemukan di tarian ronggeng di daerah lainnya, yaitu calung yang terbuat dari bambu – dikenal dengan sebutan calung banyumasan. Kini, jejak lengger lanang (laki-laki) terakhir tinggal di sebuah desa bernama Somagede. Meski usianya tak lagi muda, sang maestro rela mendedikasikan hidupnya demi keberlanjutan seni tradisi yang terancam kepunahan.</p>
<p>Cultural Trip to Banyumas mengajak para pencinta budaya dan traveling untuk merasakan budaya Banyumas yang berbasis kerakyatan, mulai dari kesehariannya, eksotika kulinernya, hasil karya kriyanya yang unik, hingga merasakan detak pergulatan kesenian tradisi melawan masa – langsung di tempat asalnya.</p>
<p>RIWAYAT PERJALANAN KESENIMANAN LENGGER DARIAH<br />
Riwayat  Perjalanan Kesenianman Dariah<br />
Dariah lahir di desa Somakaton, kecamatan Somagede, kabupaten Banyumas dengan nama Sadam, berjenis kelamin laki-laki. Sejak kecil Sadam tinggal bersama kakeknya, Krama Leksana yang hidup sebagai petani kecil. Ayahnya, Marta Samin yang bekerja sebagai buruh tani belum mampu membuat rumah sendiri. Pada suatu saat datang seorang pengelana (penyebar agama Islam Abangan) bernama Kaki Danabau. Tidak ada seorangpun yang tahu siapa dan darimana asal Kaki Danabau, sebab nama tersebut lebih terkesan sebagai nama samaran.</p>
<p>Kaki Danabau bertempat tinggal di rumah Krama Leksana. Di rumah kakek Dariah itu, Kaki Danabau membantu menggarap lahan pertanian, membersihkan kebun, dan membantu pekerjaan rumah tangga yang lain tanpa mengharap imbalan apapun. Setiap malam Kaki Danabau mendongeng tentang kisah para nabi maupun aplikasi ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kaki Danabahu jarang sekali makan nasi, Kaki Danabau sekedar makan beberapa potong ubi jalar rebus dalam satu hari, selebihnya hanya menghisap rokok klobot ( rokok yg tembakaunya dibungkus dengan daun jagung) yang dipadu dengan klembak menyan. Pada hari-hari tertentu Kaki Danabau pergi tanpa ada yang tau kemana arahnya dan kemudian datang lagi.</p>
<p>Pada suatu ketika setelah Sadam dikhitan, Kaki Danabau mengatakan sesuatu yang tidak diduga-duga.<br />
Kaki Danabau : “Wirya, kae putumu si Sadam tah kadunungan indhang lengger, angger gelem sinau bisa dadi lengger sing misuwur” (Wirya, cucumu si Sadam dirasuki indhang lengger. Kalau mau belajar, bisa jadi lengger yang terkenal).</p>
<p>Kata-kata Kaki Danabau tidak lepas dari kenyataan yang ada. Dariah kecil meskipun berjenis kelamin laki-laki, namun suka lenggak-lenggok seperti seorang lengger dan suka nyindhen (menyuarakan vokal/lagu sindhenan) atau melagukan tembang-tembang Jawa. Kegemarannya menari dan menyanyi dilakukan sambil melakukan pekerjaan apa saja. Rengeng-rengeng (menyanyi dengan suara lirih) merupakan salah satu kesenangannya selain menari seperti halnya yang dilakukan oleh penari lengger di atas pentas.<br />
Dariah tidak tahu apakah bernar-benar telah kerasukan indhang lengger atau sekedar terobsesi oleh kata-kata Kaki Danabau. Sejak mendengar kata-kata tersebut dalam diri Dariah yang kala itu masih bernama Sadam terjadi gejolak yang tak terkendali. Sadam seperti dituntun oleh alam bawah sadar. Tanpa pamit dengan orang-orang tercinta, Sadam pergi berjalan mengikuti langkah kaki. Hal yang masih diingatnya adalah berjalan ke timur mengikuti jalan beraspal jalur Banyumas – Banjarnegara, kemudian berbelok ke kiri ke arah Purbalingga. Di daerah Bukateja, Sadam sempat berhenti dan diberi air minum oleh warga setempat.</p>
<p>Dariah terus berjalan entah ke mana dan entah berapa hari sudah dilewatinya, hingga  akhirnya sampai di sebuah pekuburan tua. Dariah melihat banyak batu lonjong  dalam posisi berdiri (menhir) dan ada sebuah arca wanita cantik terbuat dari batu. Dariah belum juga tahu di wilayah mana dirinya berada. Dariah hanya dapat memasrahkan hidup dan matinya kepada Hyang Maha Pencipta, dan memohon kalau memang ditakdirkan menjadi seorang lengger maka dirinya akan menerima dengan sepenuh hati.<br />
Di tempat yang sebelumnya sama sekali tidak dikenalnya, Dariah sama sekali tidak berniat bertapa atau bersamadi, tetapi betapa dirinya merasa tenang dan damai, sehingga merasa betah dalam waktu berhari-hari. Dariah merasa, mendapatkan perlindungan dari kekuatan magis yang tidak pernah dimengerti. Dariah tidak dapat mengingat berapa hari dan berapa malam berada di makam tua tanpa makan dan minum. Menurut Dariah peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada masa penjajahan Jepang menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia atau sekitar tahun 1944 – 1945.</p>
<p>Setelah berhari-hari Dariah berada di tempat pekuburan tua yang sangat mendamaikan hatinya, selanjutnya mulai terdengar pembicaraan orang-orang yang lewat di jalan yang ada di sisi barat tempat ia bersimpuh. “Kae sapa sih sing lagi tapa ning Panembahan Ronggeng?” (Siapa sih, yang sedang bertapa di makam Panembahan Ronggeng ) tanya seseorang. Yang lain menjawab sekenanya: “mbuh wongendi.wong nang Panembahan  mesthie ya ngudi men bisa dai ronggeng” (entah dari mana, orang di Panembahan Ronggeng mestinya yang sedang memohon agar dapat menjadi ronggeng). Dariah mulai paham bahwa selama beberapa hari ternyata dirinya berada di makam Panembahan Rongeng yang merupakan tempat bagi orang memohon kepada Penguasa Alam agar dapat menjadi seorang ronggeng.</p>
<p>Panembahan Ronggeng merupakan tempat bersamadi bagi orang yang menginginkan dirinya menjadi ronggeng atau lengger, terdapat di desa Gandatapa, kecamatan Sumbang, kabupaten Banyumas. Dengan demikian Dariah telah berjalan mengelilingi tiga kabupaten, yaitu kabupaten Banyumas, Banjarnegara, dan Purbalingga, sebelum akhirnya kembali ke wilayah kabupaten Banyumas di lokasi Panembahan Ronggeng. Hinga penelitian berlangsung, makam Panembahan Ronggeng masih sering dikunjungi dan dijadikan sebagai tempat semadi oleh anggota masyarakat yang menginginkan dirinya menjadi lengger.<br />
Setelah merasa puas berada di makam Panembahan Ronggeng, selanjutnya Dariah melanjutkan perjalanan pulang. Untuk menuju ke tempat tinggalnya di Somakaton, Dariah tidak begitu saja tahu jalan yang harus dilalui. Dariah harus banyak bertanya kepada orang yang dijumpainya dalam perjalanan. Akhirnya Dariah sampai di kota Purwokerto. Di Purwokerto Dariah membelanjakan bekal uangnya untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan oleh seorang lengger dalam pementasan. Dariah berambut pendek, dibelinya satu  buah gelung brongsong (konde yang dilengkapi semacam ikat kepala sehingga pemakaiannya tinggal diterapkan di kepala). Dariah juga membeli kemben ( kain penutup dada), sampur, dan keperluan lainnya.</p>
<p>Barang-barang hasil belanjaan yang dipersiakan untuk perlengkapan lengger lalu dibawanya pulang. Dengan berjalanan kaki akhirnya Dariah sampai di Somakaton. Betapa gemparnya selururuh keluarga, kerabat dan tetangga-tetangganya demi mengetahui Dariah pulang setelah sekian lama pergi entah kemana tanpa ada seorangpun yang tahu. Sesampainya di rumah Dariah menceritakan semua yang dialami selama kepergiannya. Seluruh keluarga dan kerabat menggapi positif semua yang terjadi. Semua kerabat menganggap bahwa semua yang telah terjadi nerupakan bagian dari proses yang harus dialami oleh Dariah untuk menjadi penari lengger. Beberapa orang yang memiliki ketrampilan bermain gamelan dikumpulkan untuk berlatih bersama-sama dengan Dariah. Semenjak itulah Dariah menjadi seorang penari lengger. Menurut Dariah apa yang dialaminya itu terjadi pada masa penjajahan Jepang menjelang kemerdekaan Indonesia (antara tahun 1944 – 1945).</p>
<p>Pada puncak ketenarannya, Dariah digandrungi banyak lelaki. Beberapa pria yang jatuh cinta padanya antara lain: Kaki Sijem, Badri, dan Mukyani. Kaki Sijem rela menjual sawah hanya untuk membeli sesuatu yang dipersembahkan untuk Dariah. Ada pula seorang Lurah yang tergila-gila dengan Dariah. Setiap kali datang selalu naik kuda. Beberapa kali Dariah pentas di wilayah yang berdekatan dengan rumah Lurah itu. Saat pulang pentas Dariah diantar naik kuda berdua. Badri dan Mukyani adalah dua pemuda dari kalangan rakyat jelata yang juga kagum dan jatuh cinta pada Dariah. Namun mengingat keduanya berasal dari kalangan keluarga tidak mampu, keduanya datang ke tempat tinggal Dariah di sela-sela waktu tamu-tamu kaya tidak berkunjung ke rumah Dariah.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
BIAYA :<br />
Rp. 2.500.000,- /orang (sharing 1 kamar berdua)<br />
Boleh dicicil 2 x dengan perincian sbb :<br />
Pembayaran tahap 1 (DP) Rp. 1.250.000,- sebelum 6 Maret 2012<br />
Pembayaran tahap 2 (Pelunasan) Rp. 1.250.000,- paling lambat 17 Maret 2012.<br />
(DP tidak dapat dikembalikan apabila calon peserta melakukan pembatalan)</p>
<p>Biaya sudah termasuk :<br />
Transportasi Jakarta-Purwokerto-Jakarta dengan KA ; Transportasi lokal ; Akomodasi (menginap 3 hari 2 malam) ; Makan / wisata kuliner selama di Banyumas ; Donasi konservasi untuk keberlanjutan seni tradisi ; Majalah National Geographic Indonesia dan National Geographic Traveler edisi terbaru.</p>
<p>INFORMASI PROGRAM &amp; PENDAFTARAN<br />
Aulia 0818-955079 / Eko 0877-71757151 / Miyoshi 0856-1475720</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Intisari Fotografi Wildlife</title>
		<link>http://jejakvisual.blog.nationalgeographic.co.id/2012/03/12/intisari-fotografi-wildlife/</link>
		<comments>http://jejakvisual.blog.nationalgeographic.co.id/2012/03/12/intisari-fotografi-wildlife/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Mar 2012 04:11:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reynold Sumayku</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakvisual.blog.nationalgeographic.co.id/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Dalam buku Focal Encyclopedia of Photography (Michael E. Peres, Elsevier, 2007), oleh salah satu penulisnya yakni Peter Eastman, fotografi wildlife (hidupan liar/kehidupan liar) disebutkan sebagai salah satu bagian dari fotografi nature (alam)—suatu kategori yang juga meliputi fotografi landscapes (lanskap, bentang permukaan tanah), seascapes (bentang laut), underwater (bawah permukaan laut), underground (bawah tanah), flora, dan termasuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam buku <em>Focal Encyclopedia of Photography </em>(Michael E. Peres, Elsevier, 2007), oleh salah satu penulisnya yakni Peter Eastman, fotografi <em>wildlife </em>(hidupan liar/kehidupan liar) disebutkan sebagai salah satu bagian dari fotografi <em>nature </em>(alam)—suatu kategori yang juga meliputi fotografi <em>landscapes </em>(lanskap, bentang permukaan tanah), <em>seascapes </em>(bentang laut), <em>underwater</em> (bawah permukaan laut), <em>underground </em>(bawah tanah), flora, dan termasuk juga klimat, cuaca, musim, serta berbagai bentuk kehidupan yang difoto dengan teknik <em>macro</em>.</p>
<p>Sebagai  salah satu “cabang” dari fotografi nature maka fotografi wildlife  dikatakan juga haruslah menganut filosofi yang secara fundamental  diyakini melekat pada fotografi nature, yakni “tanpa <em>set-up</em>, bukan pose yang diarahkan, atau direkayasa kenyataannya.”</p>
<p>Sebagian  kalangan meyakini bahwa “campur tangan manusia” hendaknya tidak  terdapat pada sebuah foto nature. Seharusnya foto yang dianggap masuk  kategori nature hanya menampilkan nature alias alamnya semata. Tanpa  sedikit pun jejak peradaban manusia ikut masuk ke dalamnya, begitu  mereka bilang. Banyak lomba foto nature berskala internasional yang  mensyaratkan hal ini. Pada akhirnya, filosofi yang demikian membuat  kehidupan para fotografer nature semakin sulit. Seberapa banyakkah  tempat di muka Bumi ini sekarang, yang masih benar-benar bebas dari  intervensi manusia? Kalaupun ada, apakah mungkin dijangkau dengan mudah?</p>
<p>Bagaimanapun,  kalau kita mundur lebih seratus tahun lalu untuk mengingat foto pertama  yang dibuat orang (Joseph Niepce, 1826), kita akan mendapati suatu foto  yang dibuat dari jendela lantai dua sebuah bangunan. Foto itu merekam  citra pohon-pohon, pekarangan, jalan, dan gedung-gedung di luar. Foto  itu, oleh sebagian kalangan, dipercaya tak hanya sebagai foto pertama,  tetapi juga “foto lanskap yang pertama”. Padahal, foto lanskap kelak  juga dimasukkan sebagai salah satu cabang fotografi nature.</p>
<p>Melihat  semua fakta di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa bahwa definisi  mungkin saja berkembang terus, dan terus pula diperdebatkan. Pada  kenyataannya, ketimbang secara mentah-mentah dan fanatik memegang  filosofi fotografi nature (yang juga berlaku pada fotografi wildlife)  tersebut, setiap fotografer berhak memegang interpretasinya sendiri,  mengemukakan definisinya sendiri. Misalnya saja, seorang fotografer  nature kerap memotret serangga atau tumbuhan dengan teknik macro, dalam  lingkungan yang dikontrol, diatur, di-set up. Terkadang serangganya  dipindahkan dahulu. Bagaimanakah kiranya seandainya tidak diatur  sedemikian rupa? Sangat sulit, walaupun bisa, bukan?</p>
<p>Michael “Nick” Nichols, seorang fotojurnalis, mantan anggota Magnum yang lantas menjadi staf fotografer majalah <em>National Geographic </em>sampai kemudian menjadi <em>editor-at-large</em>, memilih jalan lain. Pada 1993, Nichols mengatur <em>camera trap </em>(perangkap  kamera) untuk memotret seekor macan tutul di habitat alaminya. Setelah  uji coba berbulan-bulan, cara ini menghasilkan foto yang layak untuk  diterbitkan. Ia juga memotret harimau di India dengan cara yang sama.  Belum lama ini, foto-fotonya mengenai singa di Afrika diterbitkan.  Foto-foto itu diambil dengan pengendali jarak jauh, menggunakan sebuah  helikopter mini yang dirancang sedemikian rupa agar dapat terbang sambil  mengangkut kamera, mendekati singa-singa, memilih <em>angle </em>yang diinginkan.</p>
<p>Bagi  Nichols yang konservatif, pilihannya jelas dan tegas: Fotolah satwa  dalam bentuk, perilaku, dan lingkungan aslinya—tanpa mengganggu  mereka—seberapapun besarnya peralatan, teknologi, dan sumber daya yang  dibutuhkan untuk melakukannya. Buatlah foto yang benar-benar  menggambarkan kehidupan satwa di alam liar dalam perilaku alaminya,  karena alam liar adalah lokasi yang tidak begitu banyak dapat dilihat  masyarakat. Hadirkan dengan jujur. Begitu kira-kira paham yang dianut  Nichols. Mengenai etika pemrosesan hasil foto dari kamera, ia juga  sangat ketat. Bahkan ia pernah mengatakan, baginya foto wildlife tidak  boleh dikroping (!).</p>
<p>Sementara itu, fotografer Joel Sartore  mengunjungi berbagai kebun binatang seraya membawa peralatan studio di  dalam mobilnya, untuk memotret banyak sekali spesies. Memotretnya  tidak di dalam kandang. Satwa-satwa itu, termasuk juga singa, diatur  dengan bantuan pawang dan petugas kebun binatang, agar menginjak,  berdiri, hinggap, atau duduk, di atas <em>background </em>hitam atau  putih yang telah disediakan, lalu difoto dengan tata cahaya selayaknya  foto studio. Satwa-satwa itu pasti stres, namun Sartore berusaha  meminimalisirnya dengan bantuan para pawang dan ahli. Ketika suatu  spesies telah kelihatan semakin gelisah dan terganggu, Sartore berhenti.  Ia merangkum banyak sekali foto <em>portrait </em>spesies dengan cara  tersebut ke dalam bukunya. Tujuannya adalah memperkenalkan  keanekaragaman sekaligus menggugah orang agar peduli terhadap  satwa-satwa yang nyaris punah. Sartore menegaskan bahwa hal ini adalah  impiannya secara pribadi.</p>
<p>Di tempat lain, Tim Laman memasukkan  sebuah kamera ke dalam pohon tempat bersarangnya burung rangkong/julang  Sulawesi. Ia melakukan hal tersebut untuk mengambil gambar anakan burung  rangkong yang dibesarkan oleh betina dewasa di dalam batang pohon.  Setiap hari, anakan rangkong dan induknya dipasok buah-buahan oleh  seekor jantan dewasa melalui suatu lubang.</p>
<p>Laman juga memasang  sebuah kamera di atas lubang tersebut—dikendalikan melalui pengendali  jarak jauh—untuk memotret sang induk jantan yang bolak-balik membawa  buah dan memasukkannya ke lubang menggunakan paruhnya.</p>
<p>Dari  beberapa contoh di atas, pada akhirnya tampak bahwa definisi bukanlah  suatu pengekang yang harganya mati. Yang lebih penting tampaknya adalah  tujuan di baliknya. Satu kesamaan yang terlihat adalah tentang etika.  Setiap fotografer menyatakan dengan cara apa foto itu dibuat, untuk  alasan dan maksud apa, dan bagaimana upaya yang dilakukan agar  “gangguan” yang dialami oleh satwa sebagai subyek dapat diminimalisir.  Ini merupakan suatu bentuk tanggung jawab.</p>
<p><strong>Lebih dari Sekadar Hiburan</strong></p>
<p>Pada akhir 1905, pemimpin redaksi majalah <em>National Geographic </em>(jurnal  resmi National Geographic Society—NGS) Gilbert Grosvenor mengundang  George Shiras ke kantornya. Shiras adalah seorang anggota kongres yang  pernah bekerja di Public Land Committee, juga seorang fotografer yang  memenangi sejumlah penghargaan. Ia datang sambil menenteng satu kotak  yang penuh berisi hasil cetak foto.</p>
<p>Tak sampai setahun kemudian, dalam edisi Juli 1906, majalah tersebut menerbitkan 70-an foto karya Shiras dengan judul <em>Photographing Wild Game with Flashlight and Camera</em>. Edisi tersebut sangat populer sehingga dicetak ulang dua tahun kemudian—satu-satunya edisi yang dicetak dua kali.</p>
<p>Alih-alih  senang, beberapa anggota dewan NGS justru tidak menerima keputusan  Grosvenor sehingga memutuskan keluar dari Society. Ketika didirikan pada  1888, <em>society </em>ini memang menyandang misi untuk menyebarkan  pengetahuan geografis. Dimuatnya foto-foto satwa pada jurnal resmi  mereka dianggap sebagai “berubahnya tujuan, menjadi galeri foto, itu  bukan geografi, dsb.” Namun, Grosvenor balik menyatakannya sebagai “cara  untuk menyampaikan pengetahuan geografis dengan cara yang lebih populer  dan edukatif.”</p>
<p>Shiras menjadi anggota dewan NGS pada 1911, dan  salah satu ciri jurnal resmi mereka sebagai majalah yang kuat dalam  fotografi wildlife terus berlangsung hingga hari ini.</p>
<p>Bagaimanapun, mau di <em>National Geographic</em> atau di manapun, pada dasarnya, sepanjang perjalanan sejarahnya,  fotografi wildlife digunakan untuk merekam satwa yang beraksi, hidup.  Melalui foto-foto yang biasanya dibuat dengan kerja keras, masyarakat  seakan-akan ikut diajak ke tempat satwa-satwa tersebut hidup. Fotografi  satwa, karena itu, juga merupakan sebuah jendela untuk melihat hal yang  tidak setiap hari dilihat kebanyakan orang, yakni bentuk-bentuk  kehidupan lain selain manusia.</p>
<p>Dalam dunia konservasi, fotografi  berguna pula untuk mengidentifikasi suatu spesies. Sebagai alat bukti  mengenai kekayaan biodiversitas. Ada fungsi edukasi yang diemban oleh  fotografi wildlife. Di pohon apa elang jawa biasa membuat sarang? Apa  makanannya? Bagaimana hubungan antara anak dan induk? Apa peran satwa  ini bagi ekosistem? Pada akhirnya, boleh jadi sampai bisa menggambarkan  ini: apa hubungan dan apa pentingnya satwa ini bagi kelangsungan hidup  umat manusia?</p>
<p>Seiring perkembangannya, fotografi wildlife dapat  ikut mendorong terjadinya kebijakan pemerintah dalam bidang pelestarian. Pada tahun  1930-an, Ansel Adams sering menemani para anggota Sierra Club saat  bepergian ke alam liar Amerika. Ia disewa sebagai fotografer.  Keterlibatannya dalam klub tersebut di antaranya juga termasuk dalam  pembuatan sebuah buku yang kemudian ikut berjasa mendorong ditetapkannya Kings  Canyon dan Sequoia sebagai taman nasional.</p>
<p>Hal serupa juga pernah  dicapai oleh Michael Nichols. Pada tahun 1999, ia bersama pelestari  Michael Fay berjalan kaki sejauh 2.000 mil melintasi jantung Afrika yang  belum pernah dilalui manusia, dalam ekspedisi yang diberi nama  Megatransect. Misi mereka saat itu: membuat catatan-catatan mengenai  kondisi hutan Afrika sebelum nantinya, pada akhirnya, dijamah oleh  peradaban manusia. Tiga tahun kemudian, di antaranya juga karena melihat  foto-foto karya Nichols, presiden Gabon setuju untuk menetapkan 10  persen wilayah negeri itu untuk dijadikan taman nasional.</p>
<p><strong>Beberapa Pokok dalam Fotografi Wildlife</strong></p>
<p><strong>Portrait, Minat. </strong>Karena  pada umumnya satwa sulit didekati oleh manusia di habitat aslinya tanpa  merasa terganggu, kebun binatang adalah lokasi yang sangat membantu  untuk memulai. Membuat potret adalah jalan yang pertama-tama dapat  dilakukan. Setelah itu, seiring bertambahnya keterampilan dan  pengetahuan, langkah-langkah berikutnya boleh jadi akan sampai pada  membuat suatu dokumentasi kehidupan di habitat alami satwa tersebut.  Langkah yang disebut terakhir ini, bagaimanapun, bukanlah keharusan atau  beban. Segalanya kembali kepada minat, kegemaran, dan tujuan kita.</p>
<p><strong>Peralatan. </strong>Juga  karena satwa biasanya sulit didekati, peralatan yang memadai—seperti  misalnya lensa tele, tripod, atau bahkan peralatan penyamaran—sangatlah  membantu. Kamera dengan <em>noise</em> yang rendah pada ISO tinggi dan tersedianya <em>stabilizer </em>akan banyak berguna, karena fotografi satwa banyak sekali berurusan dengan kondisi pencahayaan minim. Kamera dengan kemampuan rana per detik <em>(frame per second) </em>yang tinggi lebih disukai, mengingat seringnya momen terjadi dengan cepat—tergantung jenis satwanya.</p>
<p>Di <em>National Geographic </em>produksi AS, memotret satwa atau pohon seringkali merupakan pekerjaan yang membutuhkan suatu tim tersendiri dan terdiri dari banyak orang. Ada bagian <em>engineering </em>yang  melakukan modifikasi atau malah membuat alat khusus untuk memotret  dengan tujuan yang juga khusus. Ada peneliti. Pawang. Pemandu. Belum  termasuk pengangkut barang, koki, dll. Dalam tim seperti ini,  fotografernya lebih mirip sutradara film.</p>
<p><strong>Pengetahuan. </strong>Di  samping peralatan, pengetahuan yang kita miliki juga sama pentingnya.  Dalam beberapa kasus bahkan mungkin saja pengetahuan tentang suatu jenis  satwa akan lebih penting di lapangan, dibanding peralatannya. Karena  itu, riset yang mendalam merupakan sebuah keharusan. Selain buku; <em>zookeeper</em>,  peneliti, pelestari, bahkan penduduk dekat hutan merupakan narasumber  yang baik untuk mempelajari perilaku satwa dan habitatnya. Ada kalanya,  berkat pengetahuan dan jasa para peneliti, bahkan kita dapat  memotret kehidupan satwa dengan lensa sudut lebar yang jauh  lebih memudahkan dalam situasi tersebut ketimbang sebuah 600 mm f/4.  Singkat kata, dalam fotografi wildlife, minat dan pengetahuan seringkali  lebih membantu dibanding peralatan berat yang belum tentu selalu berguna.</p>
<p>Sebagai  catatan lain, banyak fotografer wildlife atau nature yang terkemuka  bahkan memang memiliki latar belakang akademis atau bahkan telah menjadi  ahli dalam bidang-bidang terkait. Sebutlah misalnya dapat biologi, zoologi, botani,  geografi, geologi. Pengetahuan yang mereka miliki membuat banyak sekali  perbedaan dan merupakan modal yang sangat penting.</p>
<p><strong>Etika. </strong>Pada masa silam, Ansel  Adams mendirikan Group f64 bersama beberapa fotografer lain. Salah satu  tujuan pembentukan organisasi tersebut adalah menetapkan  standar-standar dalam praktik fotografi nature. Hal ini dikarenakan  terus berjalannya debat mengenai etika dalam pembuatan foto-foto nature.  “Tidak menyakiti satwa dan merusak lingkungan tempat fotografer  bekerja,” merupakan standar yang mereka kemukakan saat itu dan menjadi  etika yang berlaku luas hingga sekarang. Selain itu, etika yang berlaku  secara luas juga meliputi pemrosesan hasil foto hingga penyajiannya.</p>
<p><strong>Daya Tahan. </strong>Karena  seringkali harus masuk hutan atau lokasi-lokasi yang medannya berat dan  cukup jauh dari peradaban, daya tahan fisik dan terutama mental sangat  dibutuhkan. Keterampilan hidup di alam terbuka juga sangat berguna.  Karena inilah sejumlah fotografer wildlife kelas dunia lebih memilih  para asisten atau anggota tim yang keterampilan dan pengetahuannya di  alam liar ibarat John Rambo atau Joko Tingkir walaupun pengetahuan  fotografinya sedikit-sedikit saja.</p>
<p>Cukup banyak masyarakat yang  menganggap fotografi wildlife adalah “bergengsi”. Namun, dalam level  serius, fotografi wildlife sebenarnya juga bisa disebut sebagai kegiatan  “orang-orang aneh.” Betapa tidak? Kehujanan, kepanasan, lelah, sering  sulit untuk mandi, ditambah kemungkinan bahaya di tengah hutan merupakan  sebagian saja dari risiko yang harus ditempuh oleh seorang fotografer  wildlife demi mendapatkan foto-foto aneka bentuk kehidupan lain yang,  oleh masyarakat luas, mungkin dianggap penting pun tidak. Karena itulah  orang-orang yang serius menggeluti bidang ini sangatlah mungkin  merupakan orang-orang yang sangat mencintainya.</p>
<p>Pada akhirnya,  pada level apapun kita ingin berada dalam fotografi wildlife, sangatlah  menyenangkan apabila bertemu dengan orang-orang yang juga memiliki minat  serupa. Apakah di perbatasan desa dengan hutan, di dalam hutan, atau  bahkan di kebun binatang—saat kita saling melemparkan senyum dan  bersalaman bagai sahabat walaupun belum kenal.</p>
<p><em>“It  needs to be something that you’re just totally committed to, and it  doesn’t matther if National Geographic is going to publish it; you’re  going to do it anyway. You’re driven to do it anyway.”</em> —Michael “Nick” Nichols</p>
<p>Diceritakan oleh Reynold Sumayku, 10 Maret 2012 pada <em>Workshop Fotografi Kompas</em> di Yogyakarta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>CULTURAL TRIP SOLO-JOGJA 24-26 Februari 2012</title>
		<link>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2012/02/15/cultural-trip-solo-jogja-24-26-februari-2012/</link>
		<comments>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2012/02/15/cultural-trip-solo-jogja-24-26-februari-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Feb 2012 04:56:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Promosi Online</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://event.blog.nationalgeographic.co.id/?p=254</guid>
		<description><![CDATA[
CULTURAL TRIP SOLO-JOGJA 24-26 Februari 2012
[ Program ini dipersembahkan oleh GELAR didukung oleh National Geographic Traveler ]
Wayang telah diakui dunia sebagai warisan budaya non-bendawi yang menjadi mahakarya dunia, puncak pencapaian peradaban manusia. Selama lebih dari 10 abad, ekspresi kultural ini berkembang mulai dari pedesaan hingga ke wilayah istana (keraton). Dalam perkembangannya, wayang tidak hanya populer [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2012/02/ad-ngt-solo-jogja.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-255" src="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2012/02/ad-ngt-solo-jogja.jpg" alt="" /></a></p>
<p>CULTURAL TRIP SOLO-JOGJA 24-26 Februari 2012<br />
[ Program ini dipersembahkan oleh GELAR didukung oleh National Geographic Traveler ]</p>
<p>Wayang telah diakui dunia sebagai warisan budaya non-bendawi yang menjadi mahakarya dunia, puncak pencapaian peradaban manusia. Selama lebih dari 10 abad, ekspresi kultural ini berkembang mulai dari pedesaan hingga ke wilayah istana (keraton). Dalam perkembangannya, wayang tidak hanya populer di pulau Jawa dan Bali, tapi juga telah sampai ke Lombok, Madura, Sumatera dan Kalimantan.</p>
<p>Lebih jauh, bentuk dan rupa wayang itu sendiri mengalami berbagai transformasi, menyesuaikan diri dengan dinamika zaman dan tempat dimana ia berkembang. Mulai dari wayang batu, wayang kulit, wayang golek, wayang klithik, wayang beber, hingga wayang orang dan masih banyak lagi.</p>
<p>&#8220;Cultural Trip to Solo-Jogja&#8221; mengajak para pencinta budaya dan traveling untuk langsung menyaksikan dari dekat bagaimana tradisi wayang mengakar dalam masyarakat, di salah satu pusat perkembangan kesenian wayang di Nusantara.</p>
<p>HARI 1<br />
•    Berangkat dari Jakarta, berkumpul di Bandara Soekarno-Hatta International Airport, menuju Yogyakarta dengan Garuda Indonesia. Setibanya di Yogyakarta, dari Bandara Adi Sutjipto kita akan langsung mengunjungi Museum Kekayon untuk melihat sekilas sejarah wayang di Nusantara. Setelah itu kita akan makan malam dan langsung menuju ke kota Solo untuk menginap di hotel.</p>
<p>HARI 2<br />
•    Pagi hari kita akan berangkat menuju ke situs Candi Sukuh, candi paling erotis di Nusantara, yang terletak di lereng gunung Lawu, tepatnya di desa Berjo. Candi Sukuh merupakan candi yang unik karena memiliki struktur bangunan yang mirip dengan bangunan piramid bangsa Indian Maya. Candi ini dibangun masyarakat Hindu Tantrayana pada tahun 1437 dan merupakan candi berusia paling muda di Nusantara.</p>
<p>Peserta dapat melihat wayang batu atau relief candi yang mengambil cerita Sudamala – salah satu episode dalam cerita pewayangan Mahabharata yang terkait dengan ritual tolak bala. Di sini tampak bahwa seksualitas merupakan hal yang amat sakral, bahkan terdapat bagian candi yang dahulu dipercaya untuk menguji kesucian/keperawanan seorang gadis.</p>
<p>•    Dalam perjalanan kita akan makan siang sebelum menuju ke Sanggar Pengrajin Wayang Kulit untuk melihat secara langsung proses pembuatan wayang kulit. Peserta juga dapat ikut mencoba menatah (ukir) hingga menyungging (pengecatan).</p>
<p>•    Bersama narasumber setempat, kita akan mengunjungi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat untuk melihat berbagai koleksi wayang kulit kuno/sakral milik kerajaan yang disimpan di dalam keraton.</p>
<p>•    Pada sore harinya, kita akan menyaksikan pertunjukan Wayang Orang Sriwedari, dimana kita diperbolehkan masuk lebih awal untuk melihat bagaimana para penari/aktor wayang orang mempersiapkan diri – berdandan, penuangan naskah, dan lain sebagainya. Diselingi makan malam.</p>
<p>•    Setelah beberapa saat beristirahat di hotel, peserta akan diajak untuk menikmati Gudeg Ceker di daerah Margoyudan, sebuah wisata kuliner unik di kota Solo yang hanya buka pada pukul 1.30 dini hari dan selalu ludes diserbu pencinta kuliner Solo setiap hari meski di tengah malam buta. Mengamati persiapan penjual gudeg yang satu ini cukup menarik.</p>
<p>HARI 3<br />
•    Check-out dari hotel di Solo, menuju Yogyakarta.<br />
•    Ditemani narasumber setempat, kita akan mengunjungi Perguruan Dalang Wayang Habirando yang terletak di Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan menyaksikan bagaimana calon-calon dalang belajar memainkan wayang. Sebuah pertunjukan wayang mini dapat ditampilkan oleh para siswa dalang yang sedang belajar.</p>
<p>•    Setelah makan siang, peserta akan diajak ke Malioboro, tempat yang sudah tidak asing lagi bagi para traveler. Disini traveler akan diberikan waktu bebas untuk berbelanja oleh-oleh, atau masuk dan menjelajah ke pasar tradisional Beringharjo untuk melihat aktivitas masyarakat sehari-hari.<br />
•    Menuju ke bandara Adi Sutjipto untuk terbang kembali ke Jakarta.</p>
<p>*Jadwal sewaktu-waktu dapat berubah sesuai situasi dan kondisi di lapangan.</p>
<p>INFORMASI &amp; PENDAFTARAN :<br />
Eko (0877-71757151) atau Aulia (0818-955079)</p>
<p>BIAYA : Rp. 3.500.000,- /orang (sharing 1 kamar berdua) Boleh dicicil 2 x dengan perincian sbb : Pembayaran tahap 1 (DP) Rp. 1.750.000,- sebelum 6 Februari 2012 Pembayaran tahap 2 (Pelunasan) Rp. 1.750.000,- paling lambat 13 Februari 2012. (DP tidak dapat dikembalikan apabila calon peserta melakukan pembatalan)<br />
Biaya sudah termasuk :<br />
•    Transportasi Jakarta-Yogyakarta-Jakarta dengan Garuda Indonesia + airport tax;<br />
•    Transportasi lokal Solo-Jogja ;<br />
•    Akomodasi (menginap 3 hari 2 malam) ;<br />
•    Makan + wisata kuliner selama di Solo-Jogja ;<br />
Majalah National Geographic Indonesia dan National Geographic Traveler edisi terbaru.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Lentera Cap Go Meh Khas Pingxi</title>
		<link>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2012/02/06/lentera-cap-go-meh-khas-pingxi/</link>
		<comments>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2012/02/06/lentera-cap-go-meh-khas-pingxi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 08:13:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ukirsari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/?p=552</guid>
		<description><![CDATA[ 
Setiap tiba hari kelima belas pasca Imlek atau hari raya China, negeri Taiwan menggelar acara Cap Go Meh yang dikenal sebagai Yuanxiao Jie. Berikut ini adalah potret kenangan saya saat menyaksikan Festival Lentera Pingxi berkait dengan perhelatan purnama pertama atau Yuanxiao Jie pada tahun lalu.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p>Setiap tiba hari kelima belas pasca Imlek atau hari raya China, negeri Taiwan menggelar acara Cap Go Meh yang dikenal sebagai <strong>Yuanxiao Jie</strong>. Berikut ini adalah potret kenangan saya saat menyaksikan Festival Lentera Pingxi berkait dengan perhelatan purnama pertama atau Yuanxiao Jie pada tahun lalu.</p>
<p><div id="attachment_550" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2012/02/ukirsari5-pingxi.jpg"><img class="size-medium wp-image-550" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2012/02/ukirsari5-pingxi.jpg" alt="(c) ukirsari 2011" width="300" height="167" /></a><p class="wp-caption-text">(c) ukirsari 2011</p></div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Sepotong Doa Imlek</title>
		<link>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2012/01/24/sepotong-doa-imlek/</link>
		<comments>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2012/01/24/sepotong-doa-imlek/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 12:52:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ukirsari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/?p=528</guid>
		<description><![CDATA[ 
Hari raya China, kerap disebut Imlek atau Xin Chia, juga Chun Jie&#8211;seperti cara teman-teman saya di Taiwan menyebutnya&#8211;merupakan perhelatan tahun baru yang dinanti seluruh warga keturunan Tionghoa. Kali ini saya berkesempatan merayakannya bersama komunitas China Benteng di Tangerang.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p><div id="attachment_536" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2012/01/ukirsari_imlek11.jpg"><img class="size-medium wp-image-536" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2012/01/ukirsari_imlek11.jpg" alt="(c) ukirsari 2012" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">(c) ukirsari 2012</p></div></p>
<p style="text-align: center">Hari raya China, kerap disebut <strong>Imlek</strong> atau <strong>Xin Chia</strong>, juga <strong>Chun Jie</strong>&#8211;seperti cara teman-teman saya di Taiwan menyebutnya&#8211;merupakan perhelatan tahun baru yang dinanti seluruh warga keturunan Tionghoa. Kali ini saya berkesempatan merayakannya bersama komunitas China Benteng di Tangerang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Syukur Awal Tahun</title>
		<link>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2012/01/20/syukur-awal-tahun/</link>
		<comments>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2012/01/20/syukur-awal-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2012 04:50:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ukirsari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/?p=514</guid>
		<description><![CDATA[ 
Berbagai tempat di belahan dunia memiliki cara menyambut tahun baru. Kali ini pengalaman menarik saya dapatkan bersama komunitas creole Kampung Tugu yang bermukim di Jakarta utara. Kesempatan ini tiba pasca peliputan saya  bersama Sony Warsono dan Christian Marvy Pattiasina dalam team National Geographic Traveler.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p><div id="attachment_515" class="wp-caption aligncentre" style="width: 214px"><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2012/01/mandi-mandi-2a1.jpg"><img class="size-medium wp-image-515" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2012/01/mandi-mandi-2a1.jpg" alt="" width="204" height="152" /></a><p class="wp-caption-text">(c) ukirsari 2012</p></div></p>
<p>Berbagai tempat di belahan dunia memiliki cara menyambut tahun baru. Kali ini pengalaman menarik saya dapatkan bersama komunitas <em>creole</em> Kampung Tugu yang bermukim di Jakarta utara. Kesempatan ini tiba pasca peliputan saya  bersama Sony Warsono dan Christian Marvy Pattiasina dalam team <strong>National Geographic Traveler</strong>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Voting Finalis FOTOKITA Award 2011</title>
		<link>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2012/01/11/voting-finalis-fotokita-award-2011/</link>
		<comments>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2012/01/11/voting-finalis-fotokita-award-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 04:25:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Promosi Online</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[EventNGI]]></category>

		<category><![CDATA[FOTOKITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://event.blog.nationalgeographic.co.id/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[
Fotokita Award 2011 telah berakhir. Dari ribuan foto yang masuk,  dewan juri telah memilih finalis 40 foto tunggal dan 20 foto cerita.  Dukung foto finalis favorit Anda untuk jadi juara. 16 voter yang  pilihannya sama dengan pilihan juri berhak mendapatkan hadiah uang tunai  masing-masing Rp200.000 beserta merchandise dari National Geographic  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2012/01/voting-fk-award-2011-story.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-251" src="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2012/01/voting-fk-award-2011-story.jpg" alt="" width="500" height="929" /></a></p>
<p>Fotokita Award 2011 telah berakhir. Dari ribuan foto yang masuk,  dewan juri telah memilih finalis 40 foto tunggal dan 20 foto cerita.  Dukung foto finalis favorit Anda untuk jadi juara. 16 voter yang  pilihannya sama dengan pilihan juri berhak mendapatkan hadiah uang tunai  masing-masing Rp200.000 beserta merchandise dari National Geographic  Indonesia. Vote sekarang juga!</p>
<p>Ketentuan:</p>
<ul>
<li>Setiap voter hanya bisa memilih maksimal 3 foto tunggal dan 3 foto cerita</li>
<li>Periode voting 10 januari – 10 Februari 2012</li>
<li>Voter yang beruntung akan diumumkan pada tanggal 14 Februari 2012</li>
</ul>
<p>Untuk berpartisipasi silakan mengunjungi: <a href="http://bit.ly/voteFKaward">http://bit.ly/voteFKaward</a></p>
<p>Salam</p>
<p>Purwo Subagiyo<br />
Digital Strategist<br />
National Geographic Indonesia<br />
event@nationalgeographic.co.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Cultural Trip to Madura</title>
		<link>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2012/01/11/cultural-trip-to-madura/</link>
		<comments>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2012/01/11/cultural-trip-to-madura/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 03:27:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Promosi Online</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[EventNGT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://event.blog.nationalgeographic.co.id/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[
Letaknya yang berada di sebelah utara Pulau Jawa, Madura atau lebih dikenal dengan pulau garam, mempunyai masyarakat sendiri, dalam arti, mempunyai corak, karakter dan sifat yang berbeda dengan masyarakat jawa. Masyarakatnya yang santun, membuat masyarakat madura disegani, dihormati bahkan “ditakuti” oleh masyarakat yang lain. Banyak orang yang mengatakan bahwa masyarakat Madura itu unik, estetis dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2012/01/ad-ngt-madura.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-248" src="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2012/01/ad-ngt-madura.jpg" alt="" /></a><br />
Letaknya yang berada di sebelah utara Pulau Jawa, Madura atau lebih dikenal dengan pulau garam, mempunyai masyarakat sendiri, dalam arti, mempunyai corak, karakter dan sifat yang berbeda dengan masyarakat jawa. Masyarakatnya yang santun, membuat masyarakat madura disegani, dihormati bahkan “ditakuti” oleh masyarakat yang lain. Banyak orang yang mengatakan bahwa masyarakat Madura itu unik, estetis dan agamis. Bahkan, ada yang mengenal masyarakat “pulau garam” ini adalah masyarakat santri, nan sopan tutur katanya dan kepribadiannya.</p>
<p>Pulau Madura besarnya kurang lebih 5.250 km2.     Secara politis, Madura selama berabad-abad telah menjadi subordinat daerah kekuasaan yang berpusat di Jawa. Sekitar tahun 900-1500, pulau ini berada di bawah pengaruh kekuasaan kerajaan Hindu Jawa timur seperti Kediri, Singhasari, dan Majapahit. Di antara tahun 1500 dan 1624, para penguasa Madura pada batas tertentu bergantung pada kerajaan-kerajaan Islam di pantai utara Jawa seperti Demak, Gresik, dan Surabaya. Pada tahun 1624, Madura ditaklukkan oleh Mataram. Sesudah itu, pada paruh pertama abad kedelapan belas Madura berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda (mulai 1882), mula-mula oleh VOC, kemudian oleh pemerintah Hindia-Belanda. Pada saat pembagian provinsi pada tahun 1920-an, Madura menjadi bagian dari provinsi Jawa Timur.</p>
<p>dengan penduduk sekitar 4 juta Jiwa. Beragam seni, budaya di Madura menjadikan salah satu pulau penghasil garam ini patut kita datangi. Kita tentu sudah tidak asing lagi dengan namanya Jamu khas Madura yang merupakan warisan turun – temurun dari para leluhur yang masih tetap terjaga khasiatnya hingga sekarang.  Madura mempunyai obat-obatan tradisional seperti jamu-jamuan yang dipercaya berkhasiat bagi kualitas/kemampuan hubungan intim suami-istri. Misalnya bagi kalangan perempuan, Madura terkenal dengan jamu Tongkat Madura yang dipercaya dapat meningkatkan kualitas fungsi seksual. Tak hanya itu, ada lagi beberapa jamu khas Madura lainnya, yang diperuntukkan khusus bagi kalangan perempuan. Ramuan obat-obatan ini konon berkhasiat bagi kesehatan organ kewanitaan, dan dapat meningkatkan kualitas fungsi seksual kalangan perempuan. Sebut saja ada jamu Rapet Wangi, jamu Empot-Empot. Bahkan, ada juga dibuat dalam bentuk sabun perawatan bagi perempuan. Selain itu, ramuan-ramuan dari Madura ini juga dipercaya dapat membangkitkan gairah seksual kalangan perempuan. Soal harga pun, ramuan-ramuan Madura itu terbilang relatif murah dan terjangkau.</p>
<p>Di tempat asalnya, celurit pada mulanya hanyalah sebuah arit. Petani pun kerap menggunakan arit untuk menyabit rumput di ladang dan membuat pagar rumah. Dalam perkembangannya, arit itu diubah menjadi alat beladiri yang digunakan oleh rakyat jelata ketika menghadapi musuh. Demikian pula pendapat D. Zawawi Imron. Seniman sekaligus budayawan Madura ini menuturkan, kalangan rakyat kecil memperlakukan celurit sebagai senjata tajam biasa. Dengan kata lain, celurit itu bukan dianggap senjata sakti. Kini, masyarakat Madura masih memandang celurit sebagai senjata yang tak terlepas dari kehidupan sehari-hari. Tak mengherankan, bila pusat kerajinan senjata tajam itu banyak bertebaran di Pulau Madura. Tidak ada salahnya jika kita berkunjung ke sentra pembuatan celurit dan membawa pulang sebagai souvenir dan kenang-kenangan. Mengenai souvenir dan kenang-kenangan kita juga akan menyambangi langsung pembuatan batik gentongan di Tanjung Bumi, Bangkalan.</p>
<p>Rasanya belum lengkap jika berkunjung ke Madura tanpa mencicipi kuliner khas madura, misalnya bebek songkem, kaldu kolot, dan masih banyak lagi. Mengunjungi sebuah daerah rasanya bagaikan “sayur tanpa garam” jika tidak mengetahui sejarah asal-muasal daerah tersebut.  bertatap muka dengan peninggalan sejarahnya, memotret kebesaran warisan kerajaan di masa silam, menyaksikan kesenian asli di tempat asalnya yang akan dipandu oleh narasumber setempat.</p>
<p>“Cultural Trip to Madura” ini dikemas bagi pencinta seni budaya Nusantara dengan sentuhan yang ringan dan bersahabat. Bersama narasumber dan tokoh budaya setempat, peserta diajak untuk menelusuri Pulau Madura dari ujung Timur hingga ke ujung Barat.</p>
<p>BIAYA :<br />
Rp. 4.000.000,- /orang (sharing 1 kamar berdua) Paling lambat 18 Januari 2012.</p>
<p>Biaya sudah termasuk :<br />
Transportasi Jakarta-Surabaya-Jakarta dengan pesawat udara + airport tax ; Transportasi lokal Surabaya-Madura-Surabaya ; Akomodasi ; Makan + wisata kuliner selama di Madura ; Majalah National Geographic Indonesia dan National Geographic Traveler edisi terbaru.</p>
<p>INFORMASI PROGRAM &amp; PENDAFTARAN<br />
Eko 0877-71757151 / Aulia 0818-955079</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Telekomunikasi Murah Hingga Pelosok Negeri</title>
		<link>http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/2011/12/30/telekomunikasi-murah-hingga-pelosok-negeri/</link>
		<comments>http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/2011/12/30/telekomunikasi-murah-hingga-pelosok-negeri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 09:19:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hafidznovalsyah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/?p=272</guid>
		<description><![CDATA[
TARIF MURAH. Seorang penari menelepon kerabatnya sebelum tampil dalam pertunjukan Topeng Ireng pasca erupsi Gunung Merapi di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (2011).Tarif telepon seluler yang semakin terjangkau oleh hampir semua lapisan masyarakat memperlancar arus komunikasi dan penyebaran informasi. Hafidz Novalsyah/NGTraveler-Indonesia

KEMUDAHAN KOMUNIKASI. Seorang penari menghubungi rekan-rekannya sebelum Tari Perang diselenggarakan sebagai atraksi wisata di desa adat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/topeng-ireng_fid-56651.jpg"><img src="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/topeng-ireng_fid-56651.jpg" alt="" width="500" height="749" class="aligncenter size-full wp-image-274" /></a></p>
<p><strong>TARIF MURAH.</strong> Seorang penari menelepon kerabatnya sebelum tampil dalam pertunjukan Topeng Ireng pasca erupsi Gunung Merapi di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (2011).Tarif telepon seluler yang semakin terjangkau oleh hampir semua lapisan masyarakat memperlancar arus komunikasi dan penyebaran informasi. Hafidz Novalsyah/NGTraveler-Indonesia</p>
<p><a href="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/dsc01202.jpg"><img src="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/dsc01202.jpg" alt="" width="600" class="aligncenter size-full wp-image-276" /></a></p>
<p><strong>KEMUDAHAN KOMUNIKASI.</strong> Seorang penari menghubungi rekan-rekannya sebelum Tari Perang diselenggarakan sebagai atraksi wisata di desa adat Bawomataluo, Pulau Nias (2011). Layanan telekomunikasi nirkabel kini sudah mencapai pelosok negeri, mempermudah komunikasi jarak jauh antarpenduduk. Hafidz Novalsyah/NGTraveler-Indonesia</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>National Seminar on UAV, Technology and Its Applications</title>
		<link>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2011/12/23/%e2%80%9cnational-seminar-on-uav-technology-and-its-applications%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2011/12/23/%e2%80%9cnational-seminar-on-uav-technology-and-its-applications%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 01:32:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Promosi Online</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[EventNGI]]></category>

		<category><![CDATA[Regional Bandung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://event.blog.nationalgeographic.co.id/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[

Grup Robot Indonesia, Global Technology Service Indonesia, dan Institut Teknologi Telkom
MEMPERSEMBAHKAN: SEMINAR NASIONAL UAV
National Seminar on UAV, Technology and Its Applications
UAV merupakan sebuah sistem pesawat tanpa awak yang memiliki kemampuan untuk melakukan berbagai jenis misi penginderaan jarak jauh berbasis video maupun foto/still image. Misi yang bisa diemban meliputi surveillance, reconnaisance, monitoring, patroli udara, foto udara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><a href="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/capture.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-242" src="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/capture.jpg" alt="" width="436" height="621" /></a></p>
<p style="text-align: center">
<p style="text-align: center">Grup Robot Indonesia, Global Technology Service Indonesia, dan Institut Teknologi Telkom<br />
MEMPERSEMBAHKAN: SEMINAR NASIONAL UAV<br />
National Seminar on UAV, Technology and Its Applications</p>
<p style="text-align: left">UAV merupakan sebuah sistem pesawat tanpa awak yang memiliki kemampuan untuk melakukan berbagai jenis misi penginderaan jarak jauh berbasis video maupun foto/still image. Misi yang bisa diemban meliputi surveillance, reconnaisance, monitoring, patroli udara, foto udara resolusi tinggi. UAV (Unmanned Aerial Vehicle) dikenal sebagai pesawat terbang tanpa awak atau dikenal juga dengan istilah UAS (Unmanned Aircraft System) di Amerika.</p>
<p>UAV didefinisikan sebagai pesawat terbang tanpa pilot, menggunakan gaya aerodinamik untuk terbang, baik secara mandiri (automatis) dengan bantuan autopilot atau dikemudikan jarak jauh dengan bantuan remote control, dan dapat membawa muatan senjata atau tidak.</p>
<p style="text-align: left">BENTUK KEGIATAN<br />
Seminar ini adalah seminar nasional yang akan diikuti oleh para pecinta teknologi Robot khususnya pecinta UAV dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Grup Robot, Globalindo Technology Services Indonesia, dan Institut Teknologi Telkom.</p>
<p style="text-align: left">Pemaparan sejarah teknologi UAV Indonesia dan aplikasi yang bisa dikembangkan dari teknologi UAV. Para peserta juga akan diberi pemaparan literatur dan demo langsung (demo terbang) pesawat UAV Kujang milik Dipl.-Ing. Endri Rachman.</p>
<p style="text-align: left">Seminar Nasional bertema “National Seminar on UAV, Technology and Its Applications” akan diselenggarakan Sabtu (24/12/2011) pagi di GSG Institut Teknologi Telkom, Bandung.</p>
<p style="text-align: left">Pembicara dalam seminar ini adalah</p>
<p style="text-align: left">Dipl.-Ing Endri Rachman (Pakar UAV), Ir. A. Ali Muayyadi, Msc., PhD (Dekan Fakultas Elektro dan Komunikasi IT Telkom Bandung), dan</p>
<p style="text-align: left">Adiatmo Rahardi (Pendiri Grup Robot).</p>
<p style="text-align: left">Pengenalan teknologi UAV kepada mahasiswa dan masyarakat teknologi Indonesia pada seminar ini diharapkan menjadi pembibitan Roboticist muda Indonesia untuk dapat menjadi ahli UAV di masa depan. Selain pemberian materi dan demo, BAKSOS pemberian bantuan kepada anak-anak Panti Asuhan “Ratu Relista”.</p>
<p>WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN<br />
v  Hari                 : Sabtu<br />
v  Tanggal           : 24 Desember 2011<br />
v  Waktu             : 08.00 – 16.00 WIB<br />
v  Tempat            : Gedung Serba Guna (GSG) Institut Teknologi Telkom, Bandung</p>
<p>Informasi:<br />
Eka (087822085805)<br />
Bima (089656250652)<br />
EIRRG LABS IT TELKOM, Bandung (Gedung H-10, IT TELKOM)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Bedaya Kajongan, Tradisi Tari Keraton yang Terancam Punah</title>
		<link>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2011/12/07/%e2%80%9cbedaya-kajongan%e2%80%9d-%e2%80%93-tradisi-tari-keraton-yang-terancam-punah/</link>
		<comments>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2011/12/07/%e2%80%9cbedaya-kajongan%e2%80%9d-%e2%80%93-tradisi-tari-keraton-yang-terancam-punah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 03:10:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Promosi Online</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[EventNGT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://event.blog.nationalgeographic.co.id/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[
Dalam sejarahnya, Cirebon dikenal sebagai pusat penyebaran agama Islam, yang juga memiliki kekayaan seni tradisi
adiluhung. Di antaranya berupa seni tari yang sarat dengan makna filosofi. Namun saat ini kebanyakan orang hanya mengenal
Tari Topeng. Padahal, masih ada sedikitnya delapan jenis tari tradisional Cirebon yang lain, yaitu Tari Bedaya Kajongan,
Tari Bedaya Rimbe, Tari Bedaya Gododan, Tari Bedaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: center"><a href="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/ad-ngt-cirebon3.jpg"><img class="size-full wp-image-226 aligncenter" src="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/ad-ngt-cirebon3.jpg" alt="" width="500" height="641" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 14pt;font-family: &quot;Myriad Pro&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot&amp;quot&amp;quot&amp;quot&amp;quot&amp;quot&#038;quot">Dalam sejarahnya, Cirebon dikenal sebagai pusat penyebaran agama Islam, yang juga memiliki kekayaan seni tradisi</span></strong></p>
<p><strong>adiluhung. Di antaranya berupa seni tari yang sarat dengan makna filosofi. Namun saat ini kebanyakan orang hanya mengenal</strong></p>
<p><strong>Tari Topeng. Padahal, masih ada sedikitnya delapan jenis tari tradisional Cirebon yang lain, yaitu Tari Bedaya Kajongan,</strong></p>
<p><strong>Tari Bedaya Rimbe, Tari Bedaya Gododan, Tari Bedaya Golekan, Tari Bedaya Kembang, Tari Bedaya Perang Keris, Tari Bedaya</strong></p>
<p><strong>Tumenggung dan Tari Bedaya Rahwana Gandrung. Namun beberapa jenis tari tradisional Cirebon tersebut mulai banyak</strong></p>
<p><strong>dilupakan orang, dan tidak sedikit pula yang sama sekali tidak mengenalnya. Kondisi itulah yang memunculkan keprihatinan</strong></p>
<p><strong>di kalangan keluarga Keraton Kanoman. Pada tahun 1990-an silam, dilakukanlah upaya revitalisasi Tari Bedaya Rimbe, yang</strong></p>
<p><strong>telah berhasil dikonstruksi ulang baik gerak, gamelan  dan juga kostum busananya. Tari Bedaya Rimbe ini sudah pula</strong></p>
<p><strong>dipentaskan kembali pada tahun 2004 lalu, dalam upacara Jumenengan Sultan Raja Mohammad Emirudin sebagai Sultan Kanoman</strong></p>
<p><strong>Ke XII.</strong></p>
<p><strong>Awal Mei 2011, Patih Kanoman Pangeran Raja Qodiran dan Ratu Raja Arimbi Nurtina, ST mendapat titah dari Sultan Raja</strong></p>
<p><strong>Mochamad Emirudin, untuk  kembali membentuk Tim Revitalisasi, guna melakukan penelusuran Tari Bedaya Kajongan. Sejumlah</strong></p>
<p><strong>mantan penari keraton, dan Pangeran Agus Djoni beserta Elang Mamat Nurahmat putranya dilibatkan dalam upaya revitalisasi</strong></p>
<p><strong>tersebut. Bukan hanya sebagai sumber  utama penggalian data, tetapi juga dalam penataan kembali gerak tari, gamelan dan</strong></p>
<p><strong>busana.</strong></p>
<p><strong>Tari Bedaya Kajongan ini dipentaskan terakhir kalinya pada awal tahun 1970, dalam acara hajat khitan salah satu keluarga</strong></p>
<p><strong>Keraton Kanoman. dalam pementasan Tari Bedaya Kajongan jumlah penarinya harus genap. Bisa enam orang, empat orang atau</strong></p>
<p><strong>dua orang. Tari Bedaya Kajongan menggambarkan adegan perang dan karena itu penarinya harus berpasangan.</strong></p>
<p><strong>Filosofinya, perang yang dimaksud dalam Bedaya kajongan adalah peperangan yang harus dilakukan oleh setiap kaum wanita</strong></p>
<p><strong>untuk menundukkan hawa nafsunya. Tari Kajongan memang berbicara tentang peran penting wanita dalam membentuk masyarakat</strong></p>
<p><strong>dan bangsa. Pesan yang terkandung dalam tarian ini adalah: “Baik atau buruknya suatu bangsa tergantung pada kaum</strong></p>
<p><strong>wanitanya. Apabila para wanitanya baik, maka bangsa itu akan menjadi baik. Tapi apabila kaum wanitanya tidak bermoral,</strong></p>
<p><strong>dikuasai oleh nafsunya sendiri, maka bangsa itu akan rusak dan hancur”.</strong></p>
<p><strong>Pada tahun 2009 silam, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat Herdiwan pernah mengingatkan tentang banyaknya</strong></p>
<p><strong>jenis kesenian tradisional yang terancam punah. Menurutnya, ada sekitar 300 jenis kesenian tradisional yang akan punah</strong></p>
<p><strong>dan menuju kepunahan. Dari jumlah tersebut, dapat dipastikan beberapa di antaranya adalah seni tari  tradisional Cirebon</strong></p>
<p><strong>yang disebutkan tadi.<br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>PictFest 2011</title>
		<link>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2011/12/06/pictfest-2011/</link>
		<comments>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2011/12/06/pictfest-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 06:09:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Promosi Online</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[EventNGI]]></category>

		<category><![CDATA[Regional Jakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://event.blog.nationalgeographic.co.id/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[
PictFest 2011 adalah perhelatan yang mempertemukan komunitas, pelaku dan penikmat fotografi, khususnya penggiat kegiatan
memotret online di Indonesia. Bisa pula dikatakan sebagai kopi darat (kopdar) komunitas fotografi dan photography
industry stakeholdersyang aktif di media sosial Indonesia.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/iklan-pictfest.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-217" src="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/iklan-pictfest.jpg" alt="" width="446" height="642" /></a></p>
<p>PictFest 2011 adalah perhelatan yang mempertemukan komunitas, pelaku dan penikmat fotografi, khususnya penggiat kegiatan</p>
<p>memotret online di Indonesia. Bisa pula dikatakan sebagai kopi darat (kopdar) komunitas fotografi dan photography</p>
<p>industry stakeholdersyang aktif di media sosial Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Donasi untuk pelestarian BOROBUDUR</title>
		<link>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2011/12/06/donasi-untuk-pelestarian-borobudur/</link>
		<comments>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2011/12/06/donasi-untuk-pelestarian-borobudur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 02:25:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Promosi Online</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[EventNGI]]></category>

		<category><![CDATA[Regional Jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[Regional Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://event.blog.nationalgeographic.co.id/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[
Seperti kita ketahui, Borobudur saat ini sedang memasuki tahap utk  pemulihan setelah terkena bencana erupsi Merapi beberapa waktu silam.  Tentunya untuk melakukan upaya pemulihan tersebut diperlukan waktu,  tenaga dan juga sumber daya yang besar.
Untuk itu, buat teman2  yang ingin turut serta menjadi bagian dari upaya pemulihan dan  pelestarian Candi Borobudur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/poster-borobudur.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-213" src="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/poster-borobudur.jpg" alt="" width="500" height="718" /></a></p>
<p>Seperti kita ketahui, Borobudur saat ini sedang memasuki tahap utk  pemulihan setelah terkena bencana erupsi Merapi beberapa waktu silam.  Tentunya untuk melakukan upaya pemulihan tersebut diperlukan waktu,  tenaga dan juga sumber daya yang besar.</p>
<p>Untuk itu, buat teman2  yang ingin turut serta menjadi bagian dari upaya pemulihan dan  pelestarian Candi Borobudur ini bisa membantunya melalui program donasi  utk Borobudur. Dengan menyisihkan uang sebesar Rp. 250.000 teman2 bisa  mendapatkan buku eksklusif Borobudur (seperti terlihat di poster)</p>
<p>Info lebih lanjut: http://forum.nationalgeographic.co.id/topic-1651.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Konser Keajaiban Indonesia</title>
		<link>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2011/12/06/konser-keajaiban-indonesia/</link>
		<comments>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2011/12/06/konser-keajaiban-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 02:23:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Promosi Online</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[EventNGT]]></category>

		<category><![CDATA[Regional Jakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://event.blog.nationalgeographic.co.id/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[


Majalah Marketeers bersama dengan MarkPlus, Inc tengah membantu promosi pariwisata Indonesia melalui program kampanye
The Real Wonder of the World (WOW). Program ini merupakan insiatif kami sebagai perusahaan media swasta dalam rangka
memasarkan pariwisawa Indonesia sebagai situs dunia yang penuh dengan keajaiban terutama dalam aspek budaya dan alam.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/real-wow-copy1.jpg"></a></p>
<p style="text-align: center"><a href="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/real-wow-copy1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-211" src="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/real-wow-copy1.jpg" alt="" width="500" height="639" /></a></p>
<p style="text-align: center">
<p style="text-align: left">Majalah Marketeers bersama dengan MarkPlus, Inc tengah membantu promosi pariwisata Indonesia melalui program kampanye</p>
<p>The Real Wonder of the World (WOW). Program ini merupakan insiatif kami sebagai perusahaan media swasta dalam rangka</p>
<p>memasarkan pariwisawa Indonesia sebagai situs dunia yang penuh dengan keajaiban terutama dalam aspek budaya dan alam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Simulasi Kebakaran, Alarm Kewaspadaan Diri</title>
		<link>http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/2011/12/01/simulasi-kebakaran-alarm-kewaspadaan-diri/</link>
		<comments>http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/2011/12/01/simulasi-kebakaran-alarm-kewaspadaan-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Dec 2011 12:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hafidznovalsyah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Desember belum genap satu hari bergulir, tapi deras hujan bersamaan dengan desau angin kompak menyapa saya dan ribuan karyawan lain di kantor saya. Hari ini saya mulai menjalani tahun kedua saya bekerja, setelah setahun lamanya masa merantau di metropolitan Jakarta. Ada ungkapan terkenal tentang Jakarta yang kerap bergaung di antara para perantau, &#8220;ibukota lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan Desember belum genap satu hari bergulir, tapi deras hujan bersamaan dengan desau angin kompak menyapa saya dan ribuan karyawan lain di kantor saya. Hari ini saya mulai menjalani tahun kedua saya bekerja, setelah setahun lamanya masa merantau di metropolitan Jakarta. Ada ungkapan terkenal tentang Jakarta yang kerap bergaung di antara para perantau, &#8220;ibukota lebih kejam daripada ibu tiri&#8221;. Sejujurnya saya kurang setuju dengan ungkapan ini atau setidaknya menyepakati dengan catatan, yaitu dengan lanjutan &#8220;&#8230;kepada perantau yang tidak siap menghadap sang ibukota&#8221;. Kesiapan yang dimaksud tidak hanya kesiapan <em>skill</em> tetapi juga kesiapan mental.</p>
<p>Ialah rahasia umum jika megapolitan Jabodetabek dengan segala problematikanya seakan menjadi momok bagi penduduknya. Mulai dari tingkat kriminalitas yang tinggi, godaan konsumerisme, kecenderungan adab dan norma bermasyarakat yang longgar, karakter individualistis, banjir tahunan, penjara kemacetan, hingga bahaya kebakaran. Untuk yang terakhir disebut ada data yang saya kutip dari <em>feature</em> di majalah NGI yang berjudul Laga Sang Ksatria Penantang Api bahwa, <strong>&#8220;Setiap hari sedikitnya dua kebakaran memberangus Jakarta. Setiap minggu dua ratus orang kehilangan tempat  tinggal.&#8221;</strong></p>
<p>Oleh karena segala ejawantah fakta yang ada itu, setiap individu &#8220;the jakartans&#8221; (mengutip sebutan penduduk Jakarta yang populer di lini masa Twitter) harus memiliki kesiapan mental yang mumpuni. Kondisi mental yang cakap akan sangat membantu dalam menjaga keseimbangan psikologis dalam menghadapi setiap tantangan di tengah laju rutinitas karir. </p>
<p>Nah siang tadi pengelola gedung kantor saya menyelenggarakan simulasi kebakaran yang melibatkan seluruh bagian di kantor delapan lantai ini. Simulasi yang terselenggara seimbang antara keseriusan dan canda tawa ini melibatkan dua mobil damkar dari posko Kebon Jeruk. Lengkap pula dengan adanya &#8220;pengasapan&#8221; yang baunya persis penyemprotan anti demam berdarah. Walhasil karyawan yang asyik menonton petugas damkar menyemprot air di kantin berhambur membubarkan diri bak nyamuk <em>Aedes aegypti</em> dibom <em>abate</em>. <strong>Ternyata diperkirakan setidaknya 44 % dari sekitar 14.000 gedung bertingkat di Jakarta belum memenuhi standar keselamatan akan bahaya kebakaran, seperti tersedianya fasilitas seperti <em>hydrant</em>, tangga darurat, dan tabung pemadam api.</strong> Hal ini juga diperkuat dengan adanya rujukan legal yaitu UU No 28 Tahun 2002 dan PP No 36 Tahun 2005 tentang standar kelaikan bangunan di Jakarta. Serta Peraturan Daerah No 8 Tahun 2008 tentang pencegahan dan penanggulangan bencana kebakaran di wilayah DKI Jakarta. Saya sangat mengapresiasi agenda tahunan kantor saya ini, karena selain bisa ga kerja <em>#eh</em>, untuk saya yang notabene pengidap gejala <em>workaholic</em> ini bisa <strong>kembali mengingat akan pentingnya kewaspadaan akan keselamatan diri sebagai antisipasi akan aneka rupa ancaman bahaya yang bisa kapan saja menyapa tanpa dinyana</strong>. Semoga Tuhan selalu melindungi kita semua, amiiin.</p>
<p>Rekaman citra dari simulasi kebakaran:<br />
<div id="attachment_247" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/img_0723s1.jpg"><img src="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/img_0723s1.jpg" alt="Begitu alarm menyalak, evakuasi diri keluar gedung dengan tenang lewat tangga darurat (jangan pakai lift)." width="500" height="333" class="size-full wp-image-247" /></a><p class="wp-caption-text">Begitu alarm menyalak, evakuasi diri keluar gedung dengan tenang lewat tangga darurat (jangan pakai lift).</p></div></p>
<p><div id="attachment_249" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/img_0838s.jpg"><img src="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/img_0838s.jpg" alt="D Biarkan para laksana praja ksatria api bekerja" width="500" height="333" class="size-full wp-image-249" /></a><p class="wp-caption-text">Mobil pemadam kebakaran tiba, jangan bengong mengerumuni mobil ini :D Biarkan para laksana praja ksatria api bekerja</p></div></p>
<p><div id="attachment_267" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/img_0758s.jpg"><img src="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/img_0758s.jpg" alt="Bergegas menyelamatkan...hape yang tertinggal hohoho" width="500" height="333" class="size-full wp-image-267" /></a><p class="wp-caption-text">Bergegas menyelamatkan...hape yang tertinggal hohoho</p></div></p>
<p><div id="attachment_251" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/img_0773s.jpg"><img src="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/img_0773s.jpg" alt="Petugas damkar (pura-pura) menyemprot api." width="500" height="333" class="size-full wp-image-251" /></a><p class="wp-caption-text">Petugas damkar (pura-pura) menyemprot api.</p></div></p>
<p><div id="attachment_252" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/img_0803s.jpg"><img src="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/img_0803s.jpg" alt="D" width="500" height="333" class="size-full wp-image-252" /></a><p class="wp-caption-text">Diasapi, kondisi di mana minyak wangi harus disemprot lagi :D</p></div></p>
<p><div id="attachment_253" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/img_0861s.jpg"><img src="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/img_0861s.jpg" alt="Sang Danwil, mensupervisi jalannya simulasi." width="500" height="333" class="size-full wp-image-253" /></a><p class="wp-caption-text">Sang Danwil, mensupervisi jalannya simulasi.</p></div></p>
<p><div id="attachment_257" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/img_0848s1.jpg"><img src="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/12/img_0848s1.jpg" alt="Semua berkumpul di halaman depan kantor mengikuti proses evaluasi simulasi yang diakhiri dengan.... foto bersama -_-" width="500" height="333" class="size-full wp-image-257" /></a><p class="wp-caption-text">Semua berkumpul di halaman depan kantor mengikuti proses evaluasi simulasi yang diakhiri dengan.... foto bersama -_-</p></div></p>
<p>Terima kasih atas kunjungannya.<br />
<em>Tweet me @hafidznovalsyah.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Pameran besar fotografi: Night Activity</title>
		<link>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2011/11/17/pameran-besar-fotografi-night-activity/</link>
		<comments>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2011/11/17/pameran-besar-fotografi-night-activity/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 04:33:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Promosi Online</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[EventNGI]]></category>

		<category><![CDATA[FOTOKITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://event.blog.nationalgeographic.co.id/?p=203</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/pameran-besar-fotografi2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-206" src="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/pameran-besar-fotografi2.jpg" alt="" width="500" height="705" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Travel Your Dreams</title>
		<link>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2011/11/15/travel-your-dreams/</link>
		<comments>http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2011/11/15/travel-your-dreams/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Nov 2011 00:50:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Promosi Online</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Regional Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://event.blog.nationalgeographic.co.id/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[
Punya  mimpi keliling dunia? Di acara ini, enam orang presenter akan   membawakan presentasi destinasi traveling menarik dalam format Pecha   Kucha 20&#215;20, yaitu 20 slide yang diputar maju secara otomatis setiap 20   detik.
Presenters – presentation about:
1. Erick Ady Novendra – Vietnam
2. Ariyanto (author of Rp2jt Keliling China Selatan) – [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/travel-a3-copy.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-201" src="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/travel-a3-copy-206x300.jpg" alt="" width="206" height="300" /></a></p>
<p>Punya  mimpi keliling dunia? Di acara ini, enam orang presenter akan   membawakan presentasi destinasi traveling menarik dalam format Pecha   Kucha 20&#215;20, yaitu 20 slide yang diputar maju secara otomatis setiap 20   detik.</p>
<p>Presenters – presentation about:</p>
<p>1. Erick Ady Novendra – Vietnam<br />
2. Ariyanto (author of Rp2jt Keliling China Selatan) – China Selatan<br />
3. Hartono Rakiman (author of Illegal Alien) – USA<br />
4. Suluh Pratitasari (author of Tales from The Road) – UK<br />
5. Andrei Budiman (author of Travellous) – Japan<br />
6. Y. Venkanteswari (author of Jalan-jalan Hemat ke Eropa) – Eropa</p>
<p>Acaranya gratis &amp; ada doorprize-nya. Sampai ketemu disana! <img src="http://forum.nationalgeographic.co.id/templates/default/smilies/smile.gif" alt=")" /></p>
<p>link FB event:<a href="http://www.facebook.com/event.php?eid=142964015803400"> http://www.facebook.com/event.php?eid=142964015803400</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
	<item>
		<title>Foto Dokumentasi yang Berbeda (Dokumentasi Event Frame #10)</title>
		<link>http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/2011/11/07/foto-dokumentasi-yang-berbeda-dokumentasi-event-frame-10/</link>
		<comments>http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/2011/11/07/foto-dokumentasi-yang-berbeda-dokumentasi-event-frame-10/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 11:58:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hafidznovalsyah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Dari sebuah event/acara yang berlangsung bagus dan meriah, penilaian terbilang sukses diselenggarakan juga datang dari bagaimana dokumentasi acara itu dilaporkan (baik melalui foto, video, maupun tulisan). Jika dokumentasi visualnya bagus tentunya orang yang tidak hadir dalam acara tersebut akan lebih mudah mempercayai kalau acaranya bagus. Bahkan bisa jadi acaranya nggak lancar-lancar amat tapi tetap bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari sebuah <em>event</em>/acara yang berlangsung bagus dan meriah, penilaian terbilang sukses diselenggarakan juga datang dari bagaimana dokumentasi acara itu dilaporkan (baik melalui foto, video, maupun tulisan). Jika dokumentasi visualnya bagus tentunya orang yang tidak hadir dalam acara tersebut akan lebih mudah mempercayai kalau acaranya bagus. Bahkan bisa jadi acaranya nggak lancar-lancar amat tapi tetap bisa terlihat sukses diselenggarakan berkat terlihat bagusnya acara tersebut dalam dokumentasinya. </p>
<p>Jadi bisa disimpulkan dokumentasi yang baik dari sebuah acara itu penting. Itulah mengapa pada acara yang besar, pihak penyelenggara (<em>event organizer</em>) tidak segan-segan menyewa fotografer top untuk mengabadikannya. Selain pihak penyelenggara, pihak klien (si empunya acara) dan pihak pendukung acara (misalnya perusahaan supplier tata cahaya, panggung, artis, hingga katering) menghadirkan fotografer sendiri untuk mengambil foto dokumentasi yang sesuai dengan kepentingan masing-masing. Dan dari sisi <em>fee</em>, sepengetahuan saya, jumlahnya bisa hampir menyamai proyek iklan sederhana atau <em>advertorial</em> di media cetak. Ini bisa jadi sumber pemasukan untuk subsidi silang dengan proyek personal seorang fotojurnalis lepas (*cerita pengalaman hehe).</p>
<p>Kondisi masyarakat yang semakin terdidik membuat kebutuhan akan pemuasan visual yang baik juga meningkat. Selain itu penerimaan akan gaya sajian visual yang lebih berbeda, buah improvisasi kreativitas si dokumentator juga semakin baik. Oleh karena itu saya rasa, gaya dokumentasi yang lebih menarik secara visual bisa dikatakan akan menjadi tren ke depannya (dalam ranah foto dokumentasi acara). </p>
<p>Berikut sedikit berbagi <strong>tips tentang bagaimana membuat foto dokumentasi yang berbeda</strong>:<br />
1. Pastikan ada foto luas yang menggambarkan suasana acara secara umum.<br />
2. Selain itu jangan lupa ambil foto-foto detil yang menarik.<br />
3. Nah yang agak bahaya kalo lupa itu: foto orang penting yang ada di acara (bisa dari sisi &#8220;bintang&#8221; utama acara, orang penting dari sisi klien (pejabat/bos), dll.)<br />
4. Mainkan teknik-teknik fotografi kreatif: siluet, <em>slow speed</em>, <em>creative flash lighting</em> (misalnya <em>slow sync, side lighting</em>), refleksi, dll.<br />
5. Koordinasi yang baik dengan pihak penyelenggara, selalu kontak dengan seksi acara dan memegang catatan <em>rundown</em> acara sendiri (tandai bagian acara yang penting).<br />
6. untuk mendapatkan ekspresi, jangan segan untuk berinteraksi sebelumnya.<br />
7. Kuasai <em>venue</em>/tempat acara berlangsung.<br />
8. Kalo menurut saya jangan melulu bikin gambar lebar dan &#8220;aster&#8221; (asal terang, kayak <em>lighting</em> sinetron hehe), b o s e n.</p>
<p>Rasanya kurang <em>afdol</em> kalau di posting ini saya nggak nempel foto yah, di bawah ini foto dokumentasi <em>event</em> Frame#10 w/ Tarmizy Harva (Stringer Reuters) - &#8220;Tell The Truth to The World Through Picture: Covering Conflict&#8221; @ Blitzmegaplex, Grand Indonesia, Jakarta (1 Oktober 2011) yang saya ambil:</p>
<p><div id="attachment_205" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/_mg_7925s.jpg"><img src="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/_mg_7925s.jpg" alt="Tarmizy Harva, Stringer fotografer Kantor Berita Reuters untuk wilayah Aceh &#38; Sumatra Utara. Peraih World Press Photo 2004." width="500" class="size-medium wp-image-205" /></a><p class="wp-caption-text">Tarmizy Harva, Stringer fotografer Kantor Berita Reuters untuk wilayah Aceh &amp; Sumatra Utara. Peraih World Press Photo 2004.</p></div></p>
<p><div id="attachment_206" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/_mg_7979s.jpg"><img src="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/_mg_7979s.jpg" alt="Ngobrol fotografi Fotokita.net + Nonton bareng The BangBang Club." width="500" class="size-medium wp-image-206" /></a><p class="wp-caption-text">2in1 Event: Ngobrol fotografi Fotokita.net + Nonton bareng The BangBang Club.</p></div></p>
<p><div id="attachment_207" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/_mg_7986s.jpg"><img src="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/_mg_7986s.jpg" alt="Rame-rame hore-hore." width="500" class="size-medium wp-image-207" /></a><p class="wp-caption-text">Rame-rame hore-hore.</p></div></p>
<p><div id="attachment_208" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/_mg_7945s1.jpg"><img src="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/_mg_7945s1.jpg" alt="Absen absen absen." width="500" class="size-medium wp-image-208" /></a><p class="wp-caption-text">Absen absen absen.</p></div></p>
<p><div id="attachment_209" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/_mg_7960s.jpg"><img src="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/_mg_7960s.jpg" alt="" width="500" class="size-medium wp-image-209" /></a><p class="wp-caption-text">Yang paling sibuks</p></div></p>
<p><div id="attachment_210" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/_mg_7999s.jpg"><img src="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/_mg_7999s.jpg" alt="Mbakyu Vega Probo, Editor National Geographic Traveler Indonesia - @vegaprobo" width="500" class="size-medium wp-image-210" /></a><p class="wp-caption-text">Mbakyu Vega Probo, Editor National Geographic Traveler Indonesia - @vegaprobo</p></div></p>
<p><div id="attachment_211" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/_mg_8014s.jpg"><img src="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/_mg_8014s.jpg" alt="Cari kursi" width="500" class="size-medium wp-image-211" /></a><p class="wp-caption-text">Cari kursi</p></div></p>
<p><div id="attachment_212" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/_mg_8047s.jpg"><img src="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/_mg_8047s.jpg" alt="Video kampanye tema 7 Miliar National Geographic Magazine." width="500" class="size-medium wp-image-212" /></a><p class="wp-caption-text">Video kampanye tema 7 Miliar National Geographic Magazine.</p></div></p>
<p><div id="attachment_213" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/_mg_8065s.jpg"><img src="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/_mg_8065s.jpg" alt="Presentasi Tarmizy Harva dengan foto-fotonya yang menjadi saksi kekejaman konflik di Aceh." width="500" class="size-medium wp-image-213" /></a><p class="wp-caption-text">Presentasi Tarmizy Harva dengan foto-fotonya yang menjadi saksi kekejaman konflik di Aceh.</p></div></p>
<p><div id="attachment_214" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/_mg_8085s.jpg"><img src="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/_mg_8085s.jpg" alt="Tanya-jawab" width="500" class="size-medium wp-image-214" /></a><p class="wp-caption-text">Tanya-jawab</p></div></p>
<p><div id="attachment_215" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/_mg_8093s.jpg"><img src="http://pikselkarakter.blog.nationalgeographic.co.id/files/2011/11/_mg_8093s.jpg" alt="D" width="500" class="size-medium wp-image-215" /></a><p class="wp-caption-text">Acara ini dipersembahkan oleh: National Geographic Indonesia, Thank you :D</p></div></p>
<p>Foto-foto di atas juga menghiasi artikel <a href="http://nationalgeographic.co.id/forum/topic-1498.html">&#8220;Dokumentasi Frame#10&#8243;</a>  dan <a href="http://blog.fotokita.net/2011/10/liputan-frame-10-covering-conflict/">&#8220;Liputan frame 10, Covering Conflict&#8221;</a>.</p>
<p>Semoga bisa sedikit berguna, terima kasih atas kunjungannya. Salam.<br />
Tweet me @hafidznovalsyah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss></wfw:commentRss>
		</item>
</channel>
</rss>
<!-- 172 queries 1.065 seconds. -->

